Wednesday, 11 May 2022

Bercerita Dalam Sajak

Bercerita  Dalam Sajak

 

Bercerita  Dalam Sajak

Karya: Chintya Aulia Rahmi

 7 Ilustrasi yang Menandakan Kamu Punya Ibu Terbaik di Seluruh Dunia

Ibu... Disinilah ceritaku dimulai

 

Kuputar mundur waktu waktu yg telah kita lewati

Satu persatu ingatanku kembali

Saat -saat dimana engkau meratapku gembira saat kelahiran ku di dunia

Melepas rasa sakit yang kau tahan slama 9 bulan

Tersenyum bahagia ketika kumulai melangkah

Tak lelah membimbing ku kata demi kata hingga aku bisa berbicara

Cinta tanpa syarat selalu kau hadirkan 

Saturday, 26 June 2021

Lost, Distance Relationship

 Setiap pria selalu menginginkan suatu hal yang berkesan untuk pasangannya, terlebih jika ia sedang Bersama pasangannya. Kencan adalah momen privasi berdua terkesan romantic karena berbicara terkait sebuah komitmen suatu hubungan. Kencan yang berkesan tentu didambakan oleh semua pria. Memberikan suatu hal yang paling berharga adalah kebanggan sejatinya. Di sisi lain wanita juga mengharapkan hal yang sama dengan pasangan prianya. Ia senang dimanja, di goda dan dirayu dengan gombalan basi pria pasangannya. Momen inilah yang sangat sulit untuk ia dapatkan setelah ia menyatakan cinta padanya empat bulan lalu melalui chat messenger pribadinya. Ia tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana mempertanggung jawabkan perkataanya itu. Seolah olah ia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan kepada pasangannya.

Hal bahagia yang ia terima setelah ngobrol di messenger adalah mereka saling merindukan satu sama lain, lalu setelah itu mereka berbalas-balasan  “I miss u”, “I miss u to”. Selesai hanya sampai disana hubungan mereka. Sebatas komunikasi non verbal yang dikirim via WA namun menggairahkan untuk memberikan semangat bagi jiwa yang kurang dibasuh dengan dengan kasih sayang. Mereka selalu begitu hingga akhirnya ketika ia punya kesempatan untuk bertemu ia seakan mati rasa harus bagaiman bertemu dengannya. Tak lupa, Ia konfirmasi dahulu lewat messenger namun hasilnya sungguh mengecewakan sehari sebelum pertemuan itu, tetiba pasangan wanitanya kehilangan handphonenya. Selama seminggu tak ada kabar dari sang wanita. Ia memutuskan untuk bersabar dan menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah tidak menarik lagi bagi si wanita.

Hari demi hari pun dilewati masih tak ada kabar dari si wantia tersebut hingga akhiranya Ia memutuskan untuk pergi gathering dengan kawan SMA nya. Ia juga bertemu dengan teman baru yang memang kebetulan satu organisasi yang sama, namun baru ketemu sekarang. Tidak diduga bahwa teman barunya itu merupakan teman dekat si wanita pasangannya. Ia berkenalan lebih jauh dan tenyata jarak ia dengan pasangannya hanya satu batas dimensi pertemanan dengan teman barunya itu. Teman barunya ini adalah teman dekat si wanita, satu kelas dan teman mainnya di kampus. Tidak ada yang menduga bahwa jarak mereka begitu dekat. Akhirnya ia menanyakan bagaimana keseharian pasanngannya di kampus tanpa ia memberi tahu bahwa dirinya adalah pasangannya. Ia bercerita banyak tentang hal yang yang sederhana hingga yang paling konyol. Akhirnya Ia tahu bagaimana ia melihat pasangannya dari sudut pandang teman barunya itu.

Beberapa hari kemudian ia mengkonfirmasi kepada teman barunya tentang keadaan pasanngannya, Ia menjawab bahwa pasangannya baik-baik saja. hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya mengapa ia selama ini tidak menjawab dan membalas chat darinya. Sungguh melegakan bahwa itu bukan kesalahannya melainkan hp pasangan nya memang hilang. Ia merasa nyaman dan keluar dari merasa bersalah bahwa ia sudah tidak semenarik sebelumnya.

Ia kemudian memberanikan diri untuk meminta no hp nya yang baru agar ia bisa menanyakan lebih lanjut terkait hubungan mereka. Namun sayang janji kencan yang sebelumnya memang harus batal. Ia kemudian mencoba menghubunginya lewat telpon. Tak diduga yang menjawab ponselnya seorang laki-laki.

He; Hallo !

Me; Iya halo? Ini siapa ya?

He; Kamu siapa?

Me Owh saya temannya si A (dalam hati saya udah curiga)

He; Owh iya saya pacarnya, ada apa? Nanti saya bilang ke dia kalo memang ada keperluan

He; haloo

…tut..tuut.tut…

Setelah itu tak ada lagi kabar tentangku dan dia

 

 

Tuesday, 13 April 2021

Lembah ekspektasi

 



Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, tentu apa pun yang dipikirkan oleh manusia kemungkinan besar mampu ia wujudkan dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Dengan kesempurnaan dalam penciptaannya sebagai manusia. Naluri dan intuisinya juga bekerja dan memerintahkan pikiran untuk melakukan apasaja yang ingin ia lakukan.

ada sebuah nasihat yang seringkali kita dengar di beberapa kebudayaan di dunia termasuk di Indonesia yaitu, istilah “berpikirlah sebelum bertindak”. Kalimat ini sangat lekat sekali dengan kita agar dalam melakukan sesuatu kita tidak membuat kesalahan atau kegagalan.

Oleh karena nya manusia kadang dibuat takut untuk melakukan sebuah kesalahan atau kegagalan sehingga mereka membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu itu gagal untuk dilaksanakan. Bayangan itu kita sebut dengan istilah ekspektasi.

Permasalahan ekepektasi secara tidak langsung berperan memainkan emosi manusia karena sifat dasar manusia adalah manusia adalah makhluk pembelajar dan  menghindari sebuah kesakitan. Ekspekatasi kemudian menjelma menjadi sebuah permasalahan yang jarang disadari oleh Sebagian manusia.

Oleh karena itu kita akan bahas dan kupas terkait ekspektasi ini agar menjadi sebuah pemahaman yang memberikan peringatan akan dampak dari kspektasi ini.

Ekspektasi kerap kali muncul ketika kita merencanakan sesuatu, bahkan ketika kita berjanji pada diri sendiri atau bahkan orang lain. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ekspektasi ini selama ia mampu untuk dijalankan kedepannya tidak akan menjadi masalah, namun sebaliknya jika tidak terlaksana dengan baik maka itu akan menjadi beban pikiran dan jatuhnya menimbukan pesimistis dalam dirinya.

Bagi Sebagian orang, berekspektasi adalah lembah yang menakutkan, sekali kita masuk ke dalamnya bisa membuat orang yang berekspektasi tadi dibuat bahagia atau malah kecewa. Namun bukan berarti kita tidak boleh berekpektasi terhadap masa depan.

Permasalahan ini timbul akibat ruang ketidakpastian dipaksa untuk menjadi sebuah kenyataan seolah itu yang akan terjadi. Tak banyak akhirnya mereka kembali dalam kekecewaan yang mendalam.

Namun ekspektasi tidak sepenuhnya menakutkan, seperti yang di jelaskan di atas bahwa selama kita mampu untuk menjalankan ekspektasi itu maka kebahagiaan yang akan muncul, nah munculnya kebahagiaan ini karena sifat manusia yang ingin lebih akan sesuatu itu mampu ia lakukan.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melakukan premeditasi, maksudnya adalah kita membayangkan atau mengekspektasikan hal yang yang terburuk dalam memandang masa depan.

Contoh kecil dari premeditasi ini adalah ketika ada dua orang anak yang hendak lomba kemudian mereka berekpektasi dengan sudut pandang berbeda. Anak pertama berekspektasi atau membayangkan dirinyalah yang akan menang karena dia merasa lebih pintar dan paling mumpuni dialam bidang ini  dan anak yang kedua tidak berpikir menang namun dia mempersiapkan hal-hal terburuk yang akan terjadi bahkan sebuah kekalahan.

Dua sudut pandang di atas akan sangat berdampak, jika kita berada di posisi anak yang pertama apabila dia mengalami kekalahan maka, ekspektasinya tadi itu membunuhnya secara perlahan dengan kekecewaan yang lebih mendalam, namun sebaliknya jika ia menang ia akan bahagia namun akan berlagak sombong.

Kemudian apabila anak kedu yang berhasil maka ia akan merasa dia sudah mengeluarkan yang terbaik yang ia bisa. Namun jika anak kedua yang kalah maka bagi dia itu sudah takdirnya karena mungkin belum bisa memberikan hal yang terbaik dan dengan rasa kecewa yang lebih rendah.

Mungkin orang kedua akan terlihat seperti seseorang yang pesimis, bisa jadi begitu namun tidak sepenuhnya sama dengan pesimis. Pesimis lebih kepada tidak adanya usaha atau ikhtiar untuk mencapai itu semua sebelum ia menghadapi masa depan, sedangkan sudut pandang yang anak kedua lakukan adalah ikhlas jika kalah dan dia berusaha dengan lebih baik.

Nah, sudut pandang ini disebut dengan stoicism. Saya tidak akan menjelaskan secara teori apa itu stoicism namun jika kita memahami prinspi kerja sudut pandang anak pertama dan kedua tadi maka kurang lebihnya seperti itu.

Stoicism akan di bahas lebih dalam jika ada waktu yang cukup dan adanya kemauan dari penulis, begitu kira-kira.

Monday, 12 April 2021

Idea

    Ide merupakan sebuah gagasan yang muncul secara tiba-tiba yang mempunyai hubungan erat dengan sebuah hal yang perlu dilakukan atau bahkan sebuah konsep yang belum matang yang sifatnya langka. Ide terkadang muncul ketika di saat yang tidak terduga, seperti di toilet ketika buang air, atau saat memancing dan seterusnya.

Biasanya ide kerap kali muncul ketika pikiran kita rileks dan tenang begitu menurut para ahli yang meneliti sebuah ide muncul dari mana. Beberapa artikel yang saya baca pun demikian rilisnya.

Kelangkaan dan kebutuhan akan ide juga membuat kita mencari sampai rela membaca ratusan bahkan ribuan halaman buku di perpustakaan, bagi anak milenial dan generasi Z mereka biasanya scrolling social media dan internet untuk hal itu.

Dengan perkembangan zaman saat ini tak heran banyak platform seperti pinterest, Instagram dan lainnya berlomba memberikan sarana bagi orang yang berbagi informasi tentang ini, bahkan akun sosial media pun turut meberikan  info seputar tips dan trik bahkan ide cemerlang di beranda mereka.

Pengalaman pribadi yang saya lakukan untuk mendapatkan ide biasanya tidak jauh dari kegiatan sehari hari termasuk ketika sedang buang air, dan lebih banyak mendapatkan ide dari internet atau akun sosial media saat ini, maklum saya termasuk generasi Z yang sangat aktif berselancar di dunia maya.

Platform yang saya gunakan untuk mencari ide ini yang paling banyak adalah pinterest karena memang sudah tujuan di buatnya aplikasi ini adalah untuk hal seperti ini menurut saya, kemudian you tube dan Instagram, beberapa kali di tik-tok.

Meskipun platform baru di dunia maya, tik-tok menurut saya aplikasi dengan AI yang sangat cerdas karena mampu memberikan rekomendasi di fyp terkait hobi dan apa yang kita butuhkan, misalnya pengembangan diri dan banyak ilmu lainnya tergantung pada awal register kita meminta rekomendasi saran untuk hal itu.

Sampai disini saya makin melihat ide apa pun sudah banyak dan mulai gampang untuk di cari. Namun ini tergantung dari kita sekarang mau kita bawa ide yang kita punya  itu kemana, apa hanya sekedar jadi ide dan konsep belaka tanpa adanya aksi nyata.

Realisasi sebuah ide berikutnya adalah menjadikannya konsep kemudian outputnya adalah tindakan atau aksi. Menurut saya pribadi, Semakin terorganisir ide yang kita tulis  atau ambil maka akan semakin mudah kita untuk mengambil langkah selanjutnya untuk merealisasikannya.

Seperti artikel ini, awalnya hanya sebuah gagasan yang tiba-tiba muncul di kepala kemudian saya realisasikan dalam bentuk tulisan. Kemudian membagikannya melalui platform ini. Mungkin ada yang bertanya, kenapa saya share lewat blog, kenapa ga buat video aja kemudian nanti banyak yang dapat insight baru, dan lebih menarik. Well itu ga ada salahnya, tapi ini langkah awal dan untuk kesana masih dipikirkan lagi selebihnya. Saran yang bagus.

Saya menulis di blog tentu ada tujuannya terlepas dari minat baca orang yang kurang setidaknya tulisan saya ada yang baca. Minimal saya sendiri. Menambah postingan di blog membuat saya merasa produktif dan banyak alasan lainnya di balik itu.

Itu lah ide yang saya maksud. Mungkin artikel ini tidak sepenuhnya berteori namun setidaknya nambah insight bagi teman-teman, kalo iya?

 

 

 

Wednesday, 31 March 2021

Monday, 29 June 2020

Cinta Ayah #part 2



“Surya!” siapa yang memanggilku. Suara ayah. Benar, itu suara ayah memanggil namaku. Heran, tumben ayah pulang sesiang ini biasanya malam. Buru-buru aku menghampiri ayah di ruang depan.
“ Kenapa ayah?”
“Begini Sur, apakah kamu mengizinkan ayah menikah lagi?”
“Hah. Menikah!!” kataku kaget.
“Maafin ayah, semenjak ibumu pergi, ayah merasa hampa tak bisa mengurus kamu. Hati ayah telah tertambat oleh seorang wanita. Dia baik sama seperti ibumu.” Kata ayah panjang lebar namun aku masih terdiam hingga ayah bicara kembali.
“ Jika kamu tak mengizinkan, tak apa-apa. ayah mengerti.” Lama kami terdiam, batinku gundah gulana.
 “aku mengizinkan ayah menikah.” Kataku datar. Entah jawabanku itu ikhlas atau tidak. Sungguh batin terasa teriris. Adakah hal yang lebih indah untuk mengungkapkan betapa kami mencintai dan sangat merindukanmu ibu.                                                                                                              
    ***
 “Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Rumah yang hampa kini kembali ceria, suara sahutan salam bahkan ucapan-ucapan yang ku rindukan kembali kudengar. Ya, itulah suara ibu baruku. Pemilik suara itu telah menjadi istri ayah yang sah dan menjadi ibu baruku setelah seminggu yang lalu ayah minta izin untuk menikah. Perlahan-lahan seiring waktu, keceriaan kembali mengisi rumah. Seperti saat ini, pulang sekolah disambut dengan hangatnya suara ibu. Tak lama pulang, ayahpun menyusul pulang dengan wajah ceria ucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“wa’alaikumsalam.” Kataku serempak dengan ibu.
“Sudah pulang semua. Ayo makan. Ibu sudah siapin makanan di meja.” Kata ibu sambil merangkul pundakku. Kamipun makan bersama...
Malampun datang ditemani rembulan dan gemerlip bintang nan jauh di angkasa. Ibu, pasti engkau tersenyum disana. Engkau lihat kami kan? Ku termenung dibalik jendela bertemankan rintik hujan malam.
“Surya.”
“Eh. Ibu. Ada apa?”
 “Iya Bu.”
“Kamu lihat bintang itu, di sana pasti ibumu sedang  melihat kamu. Kalau kamu murung bersedih pasti ibumu sedih juga disana dan sebaliknya kalau kamu bahagia disini pasti ibumu juga turut bahagia. Di dunia ini kita hidup sementara, kita akan kembali ke sang pencipta. Kamu pasti bisa bertemu dengan ibumu di surga kelak.” Kata ibuku panjang lebar.
“Tapi aku rindu banget sama ibu.”
“ Kan ibu disini sayang. Hehee... ibu pasti akan menyayangi kamu seperti ibumu dulu .”
Aku merasakan sesuatu yang menjalar di urat-urat nadiku. Aneh...! aku tersentuh dengan kata-kata ibuku ini. Aku teringat, dulu ibuku pernah mengatakan hal serupa apa yang dikatakan ibu tiriku ini. Sama persis dan rasa heran mulai melanda pikiranku. Lama kami terdiam hingga sebuah pertanyaan melintas dalam benak dan ku utarakan.
“ Apa ibu kenal dengan ibuku?
“hemm.. sangat kenal. Dulu ibumu teman sekamar di kos waktu masih SMP. Ibumu  kakak kelasku yang sangat baik, aku sudah dianggap seperti adik kandungnya. Hampir setiap saat kami selalu bersama. Tapi sekitar beberapa bulan sebelum ibumu lulus, aku pindah sekolah ke luar daerah karena ayah pindah kerja.”
“Kenapa baru muncul setelah ibuku pergi?”
“Karena baru sebulan ibu di daerah sini dan tak sengaja kenal dengan ayahmu. Semula ibu tak tahu kalau ia suami ibumu. Tapi setelah ayahmu menceritakan diri dan akhirnya baru tahu kalau ibumu adalah kakak sekaligus sahabat terbaik ibu dulu.
“Hemmm.. ternyata kalian disini. Tak ngajak ayah ngumpul yaa..” kata ayah datang sambil mengusap kepalaku seperti kebiasaannya dulu.
“ Ayah. Ganggu aja. Kita pengen berdua.” Kata ibuku merajuk manja. Hatiku tergelitik. Ku lepas rangkulan ibu dan memeluk tubuh ayah.
“ Surya. Kau tahu nak, ibumu belahan hati ayah dan ibumu yang ini belahan sisi yang lain.”
“ Terus aku belahan apa ayah?”
“Belahan dada. Hahahaaa.” kata ayah sambil tertawa.
“Iihhh ayah, kok gitu sih”
“Kamu itu belahan segala-galanya.”
“Beginilah cara Ayah mengungkapkan cintanya.” kata ibuku menimpali ucapan ayah. Kamipun tertawa bersama. Satu persatu kenangan lalu kian seakan terulang kembali. Sungguh indah dunia. Ternyata skenario tuhan, yang maha membolak-balikkan hati manusia, tidak pernah bisa kita dengar yang dari awalnya aku kira ibu tiri pasti jahat, namun sebaliknya. Aku punya ibu tiri yang baik berhati malaikat. Ibu, disini aku bahagia. Ibu berbahagialah disana. Kita pasti berkumpul kembali kelak disurga.

*selesai*

Monday, 22 June 2020

Cinta Ayah #Part 1

Karya : Rohimatun Sodiah (SMAN 1 Praya).
                                
            Aku menatap album foto keluarga. Sosok wajah tersenyum bahagia merangkulku. Ialah ibuku tercinta. Tidak terasa sudah satu tahun berlalu, ibuku kembali ke sang pencipta. 

Hari-hariku terasa sepi tanpa belaian kasih sayang seorang ibu. 
Kini aku hanya tinggal berdua bersama Ayah. Suasana pun kian berbeda...