“Surya!” siapa yang
memanggilku. Suara ayah. Benar, itu suara ayah memanggil namaku. Heran, tumben
ayah pulang sesiang ini biasanya malam. Buru-buru aku menghampiri ayah di ruang
depan.
“ Kenapa ayah?”
“Begini Sur, apakah kamu
mengizinkan ayah menikah lagi?”
“Hah. Menikah!!” kataku kaget.
“Maafin ayah, semenjak ibumu pergi,
ayah merasa hampa tak bisa mengurus kamu. Hati ayah telah tertambat oleh
seorang wanita. Dia baik sama seperti ibumu.” Kata ayah panjang lebar namun aku
masih terdiam hingga ayah bicara kembali.
“ Jika kamu tak mengizinkan,
tak apa-apa. ayah mengerti.” Lama kami terdiam, batinku gundah gulana.
“aku mengizinkan ayah menikah.” Kataku datar. Entah
jawabanku itu ikhlas atau tidak. Sungguh batin terasa teriris. Adakah hal yang
lebih indah untuk mengungkapkan betapa kami mencintai dan sangat merindukanmu
ibu.
***
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Rumah yang
hampa kini kembali ceria, suara sahutan salam bahkan ucapan-ucapan yang ku
rindukan kembali kudengar. Ya, itulah suara ibu baruku. Pemilik suara itu telah
menjadi istri ayah yang sah dan menjadi ibu baruku setelah seminggu yang lalu
ayah minta izin untuk menikah. Perlahan-lahan seiring waktu, keceriaan kembali
mengisi rumah. Seperti saat ini, pulang sekolah disambut dengan hangatnya suara
ibu. Tak lama pulang, ayahpun menyusul pulang dengan wajah ceria ucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“wa’alaikumsalam.” Kataku
serempak dengan ibu.
“Sudah pulang semua. Ayo
makan. Ibu sudah siapin makanan di meja.” Kata ibu sambil merangkul pundakku.
Kamipun makan bersama...
Malampun
datang ditemani rembulan dan gemerlip bintang nan jauh di angkasa. Ibu, pasti engkau
tersenyum disana. Engkau lihat kami kan? Ku termenung dibalik jendela
bertemankan rintik hujan malam.
“Surya.”
“Eh. Ibu. Ada apa?”
“Iya Bu.”
“Kamu lihat bintang itu, di
sana pasti ibumu sedang melihat kamu.
Kalau kamu murung bersedih pasti ibumu sedih juga disana dan sebaliknya kalau
kamu bahagia disini pasti ibumu juga turut bahagia. Di dunia ini kita hidup
sementara, kita akan kembali ke sang pencipta. Kamu pasti bisa bertemu dengan ibumu
di surga kelak.” Kata ibuku panjang lebar.
“Tapi aku rindu banget sama
ibu.”
“ Kan ibu disini sayang.
Hehee... ibu pasti akan menyayangi kamu seperti ibumu dulu .”
Aku merasakan
sesuatu yang menjalar di urat-urat nadiku. Aneh...! aku tersentuh dengan
kata-kata ibuku ini. Aku teringat, dulu ibuku pernah mengatakan hal serupa apa
yang dikatakan ibu tiriku ini. Sama persis dan rasa heran mulai melanda
pikiranku. Lama kami terdiam hingga sebuah pertanyaan melintas dalam benak dan
ku utarakan.
“ Apa ibu kenal dengan ibuku?
“hemm.. sangat kenal. Dulu
ibumu teman sekamar di kos waktu masih SMP. Ibumu kakak kelasku yang sangat baik, aku sudah dianggap
seperti adik kandungnya. Hampir setiap saat kami selalu bersama. Tapi sekitar
beberapa bulan sebelum ibumu lulus, aku pindah sekolah ke luar daerah karena
ayah pindah kerja.”
“Kenapa baru muncul setelah
ibuku pergi?”
“Karena baru sebulan ibu di
daerah sini dan tak sengaja kenal dengan ayahmu. Semula ibu tak tahu kalau ia suami
ibumu. Tapi setelah ayahmu menceritakan diri dan akhirnya baru tahu kalau ibumu
adalah kakak sekaligus sahabat terbaik ibu dulu.
“Hemmm.. ternyata kalian
disini. Tak ngajak ayah ngumpul yaa..” kata ayah datang sambil mengusap kepalaku
seperti kebiasaannya dulu.
“ Ayah. Ganggu aja. Kita
pengen berdua.” Kata ibuku merajuk manja. Hatiku tergelitik. Ku lepas rangkulan
ibu dan memeluk tubuh ayah.
“ Surya. Kau tahu nak, ibumu
belahan hati ayah dan ibumu yang ini belahan sisi yang lain.”
“ Terus aku belahan apa ayah?”
“Belahan dada. Hahahaaa.” kata
ayah sambil tertawa.
“Iihhh ayah, kok gitu sih”
“Kamu itu belahan
segala-galanya.”
“Beginilah cara Ayah
mengungkapkan cintanya.” kata ibuku menimpali ucapan ayah. Kamipun tertawa
bersama. Satu persatu kenangan lalu kian seakan terulang kembali. Sungguh indah
dunia. Ternyata skenario tuhan, yang maha membolak-balikkan hati manusia, tidak
pernah bisa kita dengar yang dari awalnya aku kira ibu tiri pasti jahat, namun
sebaliknya. Aku punya ibu tiri yang baik berhati malaikat. Ibu, disini aku
bahagia. Ibu berbahagialah disana. Kita pasti berkumpul kembali kelak disurga.
*selesai*