Karya
: Rohimatun Sodiah (SMAN 1 Praya).
Aku
menatap album foto keluarga. Sosok wajah tersenyum bahagia merangkulku. Ialah
ibuku tercinta. Tidak terasa sudah satu tahun berlalu, ibuku kembali ke sang
pencipta.
Hari-hariku terasa sepi tanpa belaian kasih sayang seorang ibu.
Kini aku hanya tinggal berdua bersama Ayah. Suasana pun kian berbeda...
Hari-hariku terasa sepi tanpa belaian kasih sayang seorang ibu.
Kini aku hanya tinggal berdua bersama Ayah. Suasana pun kian berbeda...
Surya. Itulah
namaku. Aku seorang siswa kelas 3 SMP. Mengingat usiaku sekarang, aku masihlah
anak baru gede atau ABG yang ingin bermanja kasih sayang pangkuan ibu.
Tapi sudah setahun ibu pergi karena penyakit yang ganas menyerang tubuh. Kanker serviks rahim stadium akhir yang tak bisa diselamatkan.
Ayahku seorang guru honorer sekolah dasar di kampung. Penghasilan yang lumayan bisa mencukupi kehidupan kami. Sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih sayang berhati malaikat.
Tapi sudah setahun ibu pergi karena penyakit yang ganas menyerang tubuh. Kanker serviks rahim stadium akhir yang tak bisa diselamatkan.
Ayahku seorang guru honorer sekolah dasar di kampung. Penghasilan yang lumayan bisa mencukupi kehidupan kami. Sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih sayang berhati malaikat.
Di balik
jendela ini, aku peluk foto ibu seraya mengenang masa bahagia antara kami bertiga.
Suara tangisan telah kalah dengan deraian hujan di luar sana. Menambah
kesedihanku. Duh mata, menangislah sepuasnya agar bisa mengobati rindu.
Terngiang kembali hangatnya pelukan ibu disaat hujan, entah mau hujan itu datang pagi, siang, ataupun malam. Kehangatan itu akan selalu menyelimuti tubuhku. Dalam batinku menjerit, aku panggil ibu.
Aku rindu kehangatan dirumah ini. Kata orang ayah pun bisa jadi ibu. Salah! Ayah tak bisa jadi ibu, aku telah membuktikannya.
Semenjak kepergian ibu, ayah tak pernah bergurau denganku bahkan secercah senyuman simpul tak pernah ku lihat lagi dan memasakkan makanan untukku tak pernah sama sekali.
Tiap hari hanyalah mie instan atau nasi bungkus mengisi perutku. Ayahku selalu pulang malam, entah kemana ayah pergi tiap pulang mengajar. Ingin aku bertanya, namun lidah kelu tak berani.
Terngiang kembali hangatnya pelukan ibu disaat hujan, entah mau hujan itu datang pagi, siang, ataupun malam. Kehangatan itu akan selalu menyelimuti tubuhku. Dalam batinku menjerit, aku panggil ibu.
Aku rindu kehangatan dirumah ini. Kata orang ayah pun bisa jadi ibu. Salah! Ayah tak bisa jadi ibu, aku telah membuktikannya.
Semenjak kepergian ibu, ayah tak pernah bergurau denganku bahkan secercah senyuman simpul tak pernah ku lihat lagi dan memasakkan makanan untukku tak pernah sama sekali.
Tiap hari hanyalah mie instan atau nasi bungkus mengisi perutku. Ayahku selalu pulang malam, entah kemana ayah pergi tiap pulang mengajar. Ingin aku bertanya, namun lidah kelu tak berani.
Hari ini sama
seperti biasa, aku pulang sekolah tanpa menemukan keindahan isi rumah. Hampa bertemankan sepi
menghinggapi sampai relung sukmaku.
Ibu tiada, ayah pun tiada, aku rindu sahutan salam ibu, mencium tangan ibu tiap pergi dan pulang sekolah, rindu kata-kata “ ayo makan bersama, makanannya sudah siap”, rindu segalanya tentang ibu.
Tapi dari sudut kecil hati, akupun tak menyangkal merindukan sosok ayah yang periang. Belaian tangan dikepalaku, gendongan saat ku dapat juara, naik sepeda bareng dan masih banyak lagi kebersamaan.
Ibu tiada, ayah pun tiada, aku rindu sahutan salam ibu, mencium tangan ibu tiap pergi dan pulang sekolah, rindu kata-kata “ ayo makan bersama, makanannya sudah siap”, rindu segalanya tentang ibu.
Tapi dari sudut kecil hati, akupun tak menyangkal merindukan sosok ayah yang periang. Belaian tangan dikepalaku, gendongan saat ku dapat juara, naik sepeda bareng dan masih banyak lagi kebersamaan.
Aku baringkan
tubuh ini sambil pejamkan mata berharap mengobati rindu namun bukan mengobati
tapi malah membuat semakin rindu.
Batinku seraya tergiris pisau tajam. Atau bahkan bandingan seumpama apapun tak bisa membandingkan betapa rindu yang ku rasa. Aku ingin marah, tapi pada siapa.
Pada ayah yang tak bisa menjaga ibu, pada tuhan yang mengambil nyawa ibuku, atau pada dokter yang tak bisa mengobati penyakit ibu, atau pada diriku yang tak tahu derita yang ibu tahan dan rasakan di balik senyuman.
Ternyata sungguh berat penderitaan ibu selama ini yang tak pernah kulihat dalam senyuman manis ibu.
Duh ibu! andaipun ku tahu, bisakah aku mengambil alih derita itu? semua terasa jahat didunia ini. Tahukah engkau ibu ? batinku sakit dalam kehampaan ini.
Batinku seraya tergiris pisau tajam. Atau bahkan bandingan seumpama apapun tak bisa membandingkan betapa rindu yang ku rasa. Aku ingin marah, tapi pada siapa.
Pada ayah yang tak bisa menjaga ibu, pada tuhan yang mengambil nyawa ibuku, atau pada dokter yang tak bisa mengobati penyakit ibu, atau pada diriku yang tak tahu derita yang ibu tahan dan rasakan di balik senyuman.
Ternyata sungguh berat penderitaan ibu selama ini yang tak pernah kulihat dalam senyuman manis ibu.
Duh ibu! andaipun ku tahu, bisakah aku mengambil alih derita itu? semua terasa jahat didunia ini. Tahukah engkau ibu ? batinku sakit dalam kehampaan ini.
“Surya!” siapa yang
memanggilku. Suara ayah. Benar, itu suara ayah memanggil namaku.
Heran, tumben ayah pulang sesiang ini biasanya malam.
Buru-buru aku menghampiri ayah di ruang depan.
Heran, tumben ayah pulang sesiang ini biasanya malam.
Buru-buru aku menghampiri ayah di ruang depan.
“ Kenapa ayah?”
...Bersambung...
#part 2 akan di post tgl 29 Juni 2020

0 komentar: