Monday, 29 June 2020

Cinta Ayah #part 2



“Surya!” siapa yang memanggilku. Suara ayah. Benar, itu suara ayah memanggil namaku. Heran, tumben ayah pulang sesiang ini biasanya malam. Buru-buru aku menghampiri ayah di ruang depan.
“ Kenapa ayah?”
“Begini Sur, apakah kamu mengizinkan ayah menikah lagi?”
“Hah. Menikah!!” kataku kaget.
“Maafin ayah, semenjak ibumu pergi, ayah merasa hampa tak bisa mengurus kamu. Hati ayah telah tertambat oleh seorang wanita. Dia baik sama seperti ibumu.” Kata ayah panjang lebar namun aku masih terdiam hingga ayah bicara kembali.
“ Jika kamu tak mengizinkan, tak apa-apa. ayah mengerti.” Lama kami terdiam, batinku gundah gulana.
 “aku mengizinkan ayah menikah.” Kataku datar. Entah jawabanku itu ikhlas atau tidak. Sungguh batin terasa teriris. Adakah hal yang lebih indah untuk mengungkapkan betapa kami mencintai dan sangat merindukanmu ibu.                                                                                                              
    ***
 “Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Rumah yang hampa kini kembali ceria, suara sahutan salam bahkan ucapan-ucapan yang ku rindukan kembali kudengar. Ya, itulah suara ibu baruku. Pemilik suara itu telah menjadi istri ayah yang sah dan menjadi ibu baruku setelah seminggu yang lalu ayah minta izin untuk menikah. Perlahan-lahan seiring waktu, keceriaan kembali mengisi rumah. Seperti saat ini, pulang sekolah disambut dengan hangatnya suara ibu. Tak lama pulang, ayahpun menyusul pulang dengan wajah ceria ucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“wa’alaikumsalam.” Kataku serempak dengan ibu.
“Sudah pulang semua. Ayo makan. Ibu sudah siapin makanan di meja.” Kata ibu sambil merangkul pundakku. Kamipun makan bersama...
Malampun datang ditemani rembulan dan gemerlip bintang nan jauh di angkasa. Ibu, pasti engkau tersenyum disana. Engkau lihat kami kan? Ku termenung dibalik jendela bertemankan rintik hujan malam.
“Surya.”
“Eh. Ibu. Ada apa?”
 “Iya Bu.”
“Kamu lihat bintang itu, di sana pasti ibumu sedang  melihat kamu. Kalau kamu murung bersedih pasti ibumu sedih juga disana dan sebaliknya kalau kamu bahagia disini pasti ibumu juga turut bahagia. Di dunia ini kita hidup sementara, kita akan kembali ke sang pencipta. Kamu pasti bisa bertemu dengan ibumu di surga kelak.” Kata ibuku panjang lebar.
“Tapi aku rindu banget sama ibu.”
“ Kan ibu disini sayang. Hehee... ibu pasti akan menyayangi kamu seperti ibumu dulu .”
Aku merasakan sesuatu yang menjalar di urat-urat nadiku. Aneh...! aku tersentuh dengan kata-kata ibuku ini. Aku teringat, dulu ibuku pernah mengatakan hal serupa apa yang dikatakan ibu tiriku ini. Sama persis dan rasa heran mulai melanda pikiranku. Lama kami terdiam hingga sebuah pertanyaan melintas dalam benak dan ku utarakan.
“ Apa ibu kenal dengan ibuku?
“hemm.. sangat kenal. Dulu ibumu teman sekamar di kos waktu masih SMP. Ibumu  kakak kelasku yang sangat baik, aku sudah dianggap seperti adik kandungnya. Hampir setiap saat kami selalu bersama. Tapi sekitar beberapa bulan sebelum ibumu lulus, aku pindah sekolah ke luar daerah karena ayah pindah kerja.”
“Kenapa baru muncul setelah ibuku pergi?”
“Karena baru sebulan ibu di daerah sini dan tak sengaja kenal dengan ayahmu. Semula ibu tak tahu kalau ia suami ibumu. Tapi setelah ayahmu menceritakan diri dan akhirnya baru tahu kalau ibumu adalah kakak sekaligus sahabat terbaik ibu dulu.
“Hemmm.. ternyata kalian disini. Tak ngajak ayah ngumpul yaa..” kata ayah datang sambil mengusap kepalaku seperti kebiasaannya dulu.
“ Ayah. Ganggu aja. Kita pengen berdua.” Kata ibuku merajuk manja. Hatiku tergelitik. Ku lepas rangkulan ibu dan memeluk tubuh ayah.
“ Surya. Kau tahu nak, ibumu belahan hati ayah dan ibumu yang ini belahan sisi yang lain.”
“ Terus aku belahan apa ayah?”
“Belahan dada. Hahahaaa.” kata ayah sambil tertawa.
“Iihhh ayah, kok gitu sih”
“Kamu itu belahan segala-galanya.”
“Beginilah cara Ayah mengungkapkan cintanya.” kata ibuku menimpali ucapan ayah. Kamipun tertawa bersama. Satu persatu kenangan lalu kian seakan terulang kembali. Sungguh indah dunia. Ternyata skenario tuhan, yang maha membolak-balikkan hati manusia, tidak pernah bisa kita dengar yang dari awalnya aku kira ibu tiri pasti jahat, namun sebaliknya. Aku punya ibu tiri yang baik berhati malaikat. Ibu, disini aku bahagia. Ibu berbahagialah disana. Kita pasti berkumpul kembali kelak disurga.

*selesai*

Previous Post
Next Post

0 komentar: