Tuesday, 13 April 2021

Lembah ekspektasi

 



Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, tentu apa pun yang dipikirkan oleh manusia kemungkinan besar mampu ia wujudkan dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Dengan kesempurnaan dalam penciptaannya sebagai manusia. Naluri dan intuisinya juga bekerja dan memerintahkan pikiran untuk melakukan apasaja yang ingin ia lakukan.

ada sebuah nasihat yang seringkali kita dengar di beberapa kebudayaan di dunia termasuk di Indonesia yaitu, istilah “berpikirlah sebelum bertindak”. Kalimat ini sangat lekat sekali dengan kita agar dalam melakukan sesuatu kita tidak membuat kesalahan atau kegagalan.

Oleh karena nya manusia kadang dibuat takut untuk melakukan sebuah kesalahan atau kegagalan sehingga mereka membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu itu gagal untuk dilaksanakan. Bayangan itu kita sebut dengan istilah ekspektasi.

Permasalahan ekepektasi secara tidak langsung berperan memainkan emosi manusia karena sifat dasar manusia adalah manusia adalah makhluk pembelajar dan  menghindari sebuah kesakitan. Ekspekatasi kemudian menjelma menjadi sebuah permasalahan yang jarang disadari oleh Sebagian manusia.

Oleh karena itu kita akan bahas dan kupas terkait ekspektasi ini agar menjadi sebuah pemahaman yang memberikan peringatan akan dampak dari kspektasi ini.

Ekspektasi kerap kali muncul ketika kita merencanakan sesuatu, bahkan ketika kita berjanji pada diri sendiri atau bahkan orang lain. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ekspektasi ini selama ia mampu untuk dijalankan kedepannya tidak akan menjadi masalah, namun sebaliknya jika tidak terlaksana dengan baik maka itu akan menjadi beban pikiran dan jatuhnya menimbukan pesimistis dalam dirinya.

Bagi Sebagian orang, berekspektasi adalah lembah yang menakutkan, sekali kita masuk ke dalamnya bisa membuat orang yang berekspektasi tadi dibuat bahagia atau malah kecewa. Namun bukan berarti kita tidak boleh berekpektasi terhadap masa depan.

Permasalahan ini timbul akibat ruang ketidakpastian dipaksa untuk menjadi sebuah kenyataan seolah itu yang akan terjadi. Tak banyak akhirnya mereka kembali dalam kekecewaan yang mendalam.

Namun ekspektasi tidak sepenuhnya menakutkan, seperti yang di jelaskan di atas bahwa selama kita mampu untuk menjalankan ekspektasi itu maka kebahagiaan yang akan muncul, nah munculnya kebahagiaan ini karena sifat manusia yang ingin lebih akan sesuatu itu mampu ia lakukan.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melakukan premeditasi, maksudnya adalah kita membayangkan atau mengekspektasikan hal yang yang terburuk dalam memandang masa depan.

Contoh kecil dari premeditasi ini adalah ketika ada dua orang anak yang hendak lomba kemudian mereka berekpektasi dengan sudut pandang berbeda. Anak pertama berekspektasi atau membayangkan dirinyalah yang akan menang karena dia merasa lebih pintar dan paling mumpuni dialam bidang ini  dan anak yang kedua tidak berpikir menang namun dia mempersiapkan hal-hal terburuk yang akan terjadi bahkan sebuah kekalahan.

Dua sudut pandang di atas akan sangat berdampak, jika kita berada di posisi anak yang pertama apabila dia mengalami kekalahan maka, ekspektasinya tadi itu membunuhnya secara perlahan dengan kekecewaan yang lebih mendalam, namun sebaliknya jika ia menang ia akan bahagia namun akan berlagak sombong.

Kemudian apabila anak kedu yang berhasil maka ia akan merasa dia sudah mengeluarkan yang terbaik yang ia bisa. Namun jika anak kedua yang kalah maka bagi dia itu sudah takdirnya karena mungkin belum bisa memberikan hal yang terbaik dan dengan rasa kecewa yang lebih rendah.

Mungkin orang kedua akan terlihat seperti seseorang yang pesimis, bisa jadi begitu namun tidak sepenuhnya sama dengan pesimis. Pesimis lebih kepada tidak adanya usaha atau ikhtiar untuk mencapai itu semua sebelum ia menghadapi masa depan, sedangkan sudut pandang yang anak kedua lakukan adalah ikhlas jika kalah dan dia berusaha dengan lebih baik.

Nah, sudut pandang ini disebut dengan stoicism. Saya tidak akan menjelaskan secara teori apa itu stoicism namun jika kita memahami prinspi kerja sudut pandang anak pertama dan kedua tadi maka kurang lebihnya seperti itu.

Stoicism akan di bahas lebih dalam jika ada waktu yang cukup dan adanya kemauan dari penulis, begitu kira-kira.

Previous Post
Next Post

0 komentar: