Aku lebih nyaman sekolah di desa, aku tidak mau sekolah di kota apalagi aku harus jauh dengan keluarga dan teman-temanku. Ayah ku hanya bisa diam, bersabar, dan terus membujukku dengan ribuan rayuan nikmatnya sekolah di kota walau demikian aku tetap saja tegap dengan pendirianku aku tidak ingin pisah dengan teman-temanku mersi, rumli, dan rahmat. aku masih ingin bermain dan mencari rumput di sawah bersama mereka.
Sebenarnya didalam benak terdalam hatiku ada sedikit
terbersit keinginan namun tidak bisa mengalahkan kecintaanku pada sapi-sapiku.
Mereka selalu bergembira menyambutku dengan suara merdunya ketika aku
membawakan sekarung rumput hijau yang aku pikul di atas kepalaku. Kita seperti
simbiosis mutualisme yang salingg menguntungkan mereka gembira aku pun ikut
gembira. Ternyata benar buah mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jiwa
peternak yang aku miliki tidak lepas dari ayahku sendiri yang dulunya adalah
seorang kusir dokar dengan kuda jantan yang membuatnya terlihat berwibawa pada
zamannya. Tapi sekarang udah beda zamannya. Sekarang zamannya berkompetisi
dengan kemampuan otak bukan materi lagi seperti dahulu.
