Alhamdulillah
kini kau sudah bertemu dengan yang Allah rahasikan untukmu. Aku turut bahagia
sekaligus terharu harus memutuskan harapan yang sejak lama kubangun. Namun aku
yakin inilah yang terbaik bagi kita. Selama apapun hubungan yang kita bangun
selama komitmen itu tidak ditanamkan dari awal maka akan sia-sia belaka. Tidak
ada dasar dan pondasi yang kuat untuk benar mempertahankannya apalagi ini
adalah sebuah ikatan cinta yang harusnya memiliki akar yang kuat punya visi
bersama sampai ke jannahNya. Itulah yang belum aku tanamkan dari awal bahwa
keraguan dan ketidakyakianan lebih banyak menghantui pikiranku. Sehinga
akhirnya tumbang dan patah ketika komitmen awal mulai sedang aku perbaiki tapi
kini sudah diganti dengan yang lebih mantap akan konsep itu.
Cinta
memang anugerah yang Allah berikan kepada orang yang memiliki rasa tanggung
jawab untuk membawanya bukan untuk orang-orang yang tidak punya komitmen dan
tidak yakin akan keagungannya. Berapa kali kita terjebak dalam ikatan yang
Allah sebenarnya tidak ridho atasnya. Berapa kali juga Allah ingatkan kepada
kita agar tidak main-main dengan sucinya cinta. Kini engkau lebih paham akan
arti cinta itu sedangkan aku mungkin masih belum mengerti tentangnya. Maafkan
aku yang mengajakmu kejalan yang Allah tidak ridhoi sungguh hati ini kini
diberi petunjuk oleh Allah melalui dirimu yang sudah siap membawa cinta dengan
orang yang kau pilih sebagai pendampingmu.
Bersyukur
aku telah mengenalmu selama ini aku banyak belajar darimu atas ketaatanmu
padaNya hingga kau mampu membedakan cinta yang benar dan cinta yang palsu.
Meskipun selama ini aku masih berharap akan kehadiranmu disampingku namun
takdir Allah sudah menentukan dan aku harus benar-benar mengikhlaskan serta
menyerahkan semuanya padaNya karena ini sudah yang terbaik bagi kita. Semoga
cintamu kini yang akan segera kau bangun menjadi cinta yang benar-benar dari
Allah yang terbaik bagimu. Sedangkan disini aku harus mengikhlaskan semua
kenangan dan harapan yang selama ini kita bangun dan segala do’a yang sudah
kita layangkan terjawab sudah bahwa aku bukanlah yang terbaik bagimu dan kau
bukan yang terbaik bagiku.
Aku
masih ingat ketika itu kau hendak menyalami aku dengan tanganmu yang putih itu
dan mungkin lembut. Namun kutolak dengan mengatakan bahwa kita masih belum halal.
Sejak itu aku tahu kau mulai berubah. Dulu yang ku kenal biasa dengan pergaulan
seperti anak remaja umunya perlahan aku melihat perkembangan dirimu yang mulai
hijrah dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
Bersyukurnya
kau terlahir dikeluargamu. Aku merasakan kenyaman batin mereka, ketulusan
mereka menerimaku ketika aku berkunjung senyum mereka yang ikhlas bak orang tua yang baru ketemu dengan
anaknya. Keramahan ibumu yang biasa kau panggil dengan bunda membuatku
merasakan cinta seorang ibu untuk anaknya. Bapakmu yang sholeh dan terlihat
bijaksana pernah mengajakku untuk sama-sama sholat berjamaah seperti bapak yang
punya kewajiban untuk mengingatkan anaknya. Adik-adikmu yang lucu dan
menggemaskan dengan tingkahnya serta kakakmu yang sholehah aku melihat dia memiliki
visi yang kuat dan peduli dengan umat dengan melihat kondisi pergaulan yang
kini mulai rusak oleh kemajuan zaman.
Pernah
sekali aku waktu kerumahmu sebenarnya aku hanya sekadar lewat dan ibumu
memanggilku
“nak eh… nak, mampir
dulu”
memanggilku sambil
menggedong seorang anak mungkin itu anak tetanggamu. Aku yang tadinya masih
berkendara pura-pura tidak tahu harus memberhentikan motorku dengan mendadak.
Rasa itulah yang kini aku masih rindukan. Setelah aku mengobrol banyak dengan
bunda, dan bapakmu tiba-tiba datang dengan sebuah tab sedang video call dengan
kakakmu. Pembicaraan bapakmu dengan kakakmu akhirnya aku yang lanjutkan
mengobrol melalui video call itu. Semua
rencana sudah dengan mantap ia paparkan jika nanti suatu saat kita benar-benar
berjodoh. Ia pun mendoa’akan yang terbaik buat kita. Aku membayangkan jika
keluarga kita bersatu mungkin akan lebih indah. Namun itu hanya mimpiku saja,
aku yang sebenarnya sudah harus mampu memanggilmu untuk pulang sekarang harus
ikhlas menerimamu dengan yang lain.
Benar kata Abu Tholib
kepada Aminah untuk anaknya Muhammad SAW ketika Muhammad harus hijrah ke
madinah bahwa setiap cinta membutuhkan pengorbanan. Jika kau cinta dia maka
tinggalkanlah. itulah yang dinamakan siksa cinta, tapi ada yang lebih
mencintainya daripada kita

Like like like
ReplyDeleteShare 😃
Delete