makan – makan makan
batuk – batuk-batuk
berlari – berlari-lari
berteriak – berteriak teriak
berputar – berputar putar
bersalaman – bersalam-salaman
bertembakan – bertembak tembakan
berpelukan – berpeluk-pelukan
berduaan – berdua-duaan
berdekatan – berdekat-dekatan
melompat – melompat-lompat
menjadi – menjadi-jadi
menguning – menguning-nguning
termenung – temenung-menung
tersendat – tersendat sendat
terjatuh – terjatuh jatuh
terkencing – tekencing-kencing
tertutupi – tertutup-tutupi
Perlu dicatat di sini bahwa ada verba yang berbentuk ber-Dasar-Dasar yang bukan reduplikasi dari ber-Dasar, melainkan gabungan prefiks ber- dengan dasar-dasar. Asas analogi mungkin juga berperan di sini.
Contoh :
Cita-cita - bercita cita
Pura-pura - berpura-pura
Ombang-ambing - terombang ambing
Warna - warna-warni - berwarna-warni
Cerai - cerai-berai - bercerai-berai
Balik - bolak-balik - membolak balik
Lalu - lalu-lalang - berlalu lalang
Kelip - kelap-kelip - berkelap kelip
Jika dibandingkan dengan reduplikasi tanpa perubahan bunyi, bentuk itu memiliki makna berulang ulang dan terus menerus secara tidak teratur.
Bentuk reduplikasi dengan perubahan itu serta dasar leksikal yang memiliki reduplikasi itu, seperti porak poranda, mondar mandir tidak dapat dikaidahkan pemunculannya sehingga kita memerlukan kamus untuk mengetahuinya. Akhirnya perlu dibicarakan kaidah reduplikasi lain yang menghasilkan verba dengan makna ketimbalbalikan. Pangkalnya adalah bentuk meng-dasar (kan/-i) dan ber– dasar, hasil penurunanya masing-masing dasar- meng-dasar (kan/-i) dan dasar-ber-dasar.
Contohnya :
memukul – pukul-memukul
membahu – bahu-membahu
membantu – bantu membantu
menolong – tolong-menolong
mencintai – cinta-mencintai
menghormati _ hormat-menghormati
menjauhi – jauh-menjauhi
membalas – balas-membalas
berbalas – balas-berbalas
mengganti – ganti-mengganti
berganti – ganti-berganti
Perlu dicatat bahwa bentuk dasar-meng-dasar(kan/-i) hanya terdapat dalam arti saling untuk kegiatan yang dapat ditimbalbalikkan namun, bentuk yang sama itu terdapat juga dengan berpangkal pada verba lain, hanya fungsinya tidak sama. Kata turunan seperti jahit menjahit bukan verba lagi melainkan nomina dengan makna segala hal yang berkaitan dengan menjahit,
beberapa contoh lagi :
menyulam
menulis
mengarang
menari
menyambal
-
-
-
-
-
sulam-menyulam
tulis-menulis
karang-mengarang
tari-menari
sambal menyambal
Bentukan semacam itu terbatas jumlahnya. Ternyata tidak ada yang berpangkal verba yang mengandung sufiks-kan/-i
Verba Majemuk
Verba majemuk ialah verba yang dasarnya terbentuk melalui proses pemajemukan dua morfem asal atau lebih, atau verba yang berafiks yang kemudian digabungkan dengan kata atau morfem terikat sampai menjadi satu satuan makna. Morfem asal yang dimaksud pada umunya adalah morfem leksikal bebas seperti pada makan hati, naik darah, ada buku tangan, dan terjun payung. Mnamun ada juga yang terdiri atas morfemasal bebas dan morfem leksikal terikat seperti pada siap tempur, lepas landas, dan simpang siur. Dalam contoh itu tempur, landas, dan siur adalah morfem leksikal terikat.
Disamping proses pembentuan di atas, verba majemuk, sebagaimana kata majemuk lain, juga memilki ciri lain yang membedakannya dari konstruksi sintaksis seperti frasa. Ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Komponen verba majemuk mengandung satu makna, dengan kata lain, makna tiap-tiap komponen tidak diperhitungkan lagi. Misalnya makna makan hati ialah sedih; jadi tidak ditafsirkan sebagai gabungan makna makan dan hati. Sebaliknya pada bentuk makan hati seperti “dia suka makan hati ayam”.
b. Salah satu konsekuensi dari keutuhan makna tersebut ialah bhawa jika verba majemuk diberi keterangan, maka yang diterangkan adalah keseluruhan verba tersebut, dan bukan komponennya.
Misalnya : “saya sungguh naik darah”
Kata keterangan sungguh adalah untuk memberi keterangan terhadap naik darah (marah), dan bukan terhadap naik atau darah. Sebaliknya, pada frasa verbal, bagian yang ada di dalamnya harus diperhatikan dalam hubungannya dengan kata keterangan.
c. Komponen verba mejemuk tidak dapat diperluas lagi. Misalnya veba majemuk makan hati tidak dapat diperluas lagi menjadi makan hati ayam seperti yang terdapat dalam kalimat. Dengan peluasan itu konstruksi itu sudah menjadi frasa verbal.
d. Susunan komponen verba majemuk cenderung tidak dapat dibalikkan. Misalnya, terjun payung tidak dapat diubah menjadi payung terjun walaupun naik turun kadang-kadang dibalik menjadi turun naik, kecendrungan ynag lebih kuat dalam pemakaian, terutama dalam bahasa Indonesia baku, ialah bentuk yang pertama.
e. Komponen verba majemuk cenderung tidak lagi dipidahkan dengan menyisipkan suatu morfem. Verba majemuk terjun paying, misalnya, tidak dapat lagi dipisahkan dengan menyisipkan dengan tiba-tiba.
Verba majemuk dapat dibagi berdasakan :
-Bentuk morfologisnya, terbagi atas verba majemuk dasar, verba majemuk berafiks, dan verba majemuk berulang.
-Hubungan komponen-komponennya, terbagi atas verba majemuk bertingkat dan verba majemuk setara.
Verba majemuk bertingkat ialah verba majemuk yang salah satu komponennya menjadi komponen inti. Pada verba majemuk jumpa pers, haus kekuasaan, dan temu wicara, misalnya, tampak bahwa jumpa, haus, dan temu adalah inti karena komponen kedua terikat kepadanya. Kemudian verba majemuk setara ialah verba majemuk yang kedua komponennya merupakan inti. Pada verba majemuk timbul tenggelam, jatuh bangun, dan mencumbu rayu.
Verba majemuk dasar
Verba majemuk dasar adalah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang, dan dapat berdiri sendiri dalam frasa, klausa, atau kalimat, seperti yang terdapat dalam kalimat yang berikut :
-Wanita itu datang bulan
-Dia jadi putus asa setelah gagal dalam ujian yang ketiga kalinya
Verba majemuk seperti datang bulan dan putus asa adalah verba majemuk dasar.
Contoh lain:
a. angkat kaku buang air
bunuh diri geger otak
gulung tikar habis akal
mabuk laut masuk angina
b. berani mati kurang tanggap
kurang ajar salah dengar
kurang piker salah hitung
c. hancur lebur jatuh bangun
pulang pergi jual beli
hilang lenyap kembang kempis
ikut campur maju mundur
ikut serta
Sebagaimana dapat dilihat pada contoh diatas, ada tiga pola verba majemuk dasaryang paling umum, yaitu : a). komponen pertama berupa verba dasar dan komponen kdua berupa nomina dasar, seperti angkat kaki, gegr otak, habis akal, dan gulung tikar; b). komponen pertama berupa adjektiva dan komponen kedua berupa verba, seperti kurang makan dan berani mati ; c) kedua komponen berupa verba dasa, seperti ikut campur, dan hancur lebur.
Verba Majemuk Berafiks
Verba majemuk berafiks adalah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu, seperti menyebarluaskan, bediam diri, beradu lidah, mendarmabaktikan, berakala budi, megambil alih, memerahpadamkan, dan lain-lain.
Verba majemuk berafiks dapat dibagi atas a) verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat, yang seterusnya disebut bentuk majemuk terikat; b) verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri, dan seterusnya disebut bentuk majemuk bebas; dan c) verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks lebih dahulu. Berikut contohnya :
a. Verba majemuk berafiks dengan pangkal majemuk terikat
beriba hati
berkembang biak
berpangku tangan
bertolak pinggang
bertekuk lutut
b. Verba majemuk berafiks dengan pangkal bentuk majemuk bebas
paduan yang menjadi dasar afiksasi ini umumnya, berupa verba, nomina, dan adjektiva
a). melipatgandakan b). menganaktirikan c). menghitamlegamkan
menaik turunkan mendarah daging mengawetmudakan
membagi rata berinduk semang memerahpadamkan
membalas budi merataptangis
memberi tahu
memukul mundur
Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa berbagi afiks apabila hanya prefiks saja dan atau sufiks maka di pisah tapi apabila ditambahkan prefiks dan sufiks pada verba tersebut maka disambung.
c. Verba majemuk berafiks dengan komponen yang telah berafiks lebih dahulu
belajar mengajar haus kekuasaan
beradik berkakak hilang ingatan
berakar berumbi hilang pikiran
Verba Majemuk Berulang
Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasi pula.
Contohnya:
naik pangkat - naik-naik pangkat
pulang kampong - pulang pulang kampong
goyang kaki - goyang-goyang kaki
pindah tangan - pindah-pindah tangan
lenggang kangkung - lenggang-lenggang kaangkung
Dari contoh di atas tampaklah bahwa hanya komponen verbalah yang mengalami reduplikasi.

0 komentar: