Friday, 20 April 2018

Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana


Pelahiran dan perkembangan analisis wacana saat ini diakui bahwa analisis wacana sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang merupakan titik temu antara lingusitik, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi, serta kemudian juga sejarah, ilmu hukum, intelegensi artifisial, filsafat, ilmu komunikasi massa, ilmu politik, dan ilmu ilmu sosial lainnya. Benang merah yang menyatukan berbagai disiplin itu adalah kesamaan minat pada berbagai fenomena penggunaan bahasa, teks, interaksi percakapan, dan peristiwa komunikasi. 

Istilah wacana diperkenalkan dan digunakan oleh para linguis di Indonesia dan negeri-negeri berbahasa melayu lainnya sebagai terjemahan istilah bahasa Inggris discourse maka discourse analysis pun diterjemahkan menjadi analisis wacana. Namun para ilmuan social lainnya lebih banyak menggunakan istilah diskursus beserta bentuk adjektivanya, diskursif.


Pada pokoknya, secara formal, khususnya dalam linguistik, yang dimaksud dengan wacana adalah “suatu rangkaian sinambung bahasa (khususnya tutur) yang lebih luas daripada kalimat” (crystal 1985: 96). Akan tetapi definisi umum ini dapat diterapkan secara berbeda-beda, sesuai dengan sudut pandang yang berbeda-beda pula. Dari sudut pandang wacana sebagai suatu satuan unit perilaku maka ia adalah “ sehimpuanan ujaran yang merupakan peristiwa wicara yang dapat dikenali tanpa merujuk pada perstrukturan kebahasaanya seperti misalnya percakapan, lelucon, khotbah, wawancara” (crystal 1985: 96). Sudut pandang sosiolinguistik lain lagi, memandang wacana sebagai “suatu proses dinamis pengungkapan dan pemahaman yang mengatur penampilan orang dalam interaksi kebahasaan “ (crystal 1985: 96). Dalam bahasa Jerman, misalnya, hanya dipakai istilah teks untuk keduanya, dalam tradisi berbahasa Inggris yang lebih dikenal orang di sini dapat dibedakan bahwa teks lebih mengacu pada bahasa tulis, sedangkan pada bahasa tutur, walaupun perbedaannya terletak pada soal penekanan belaka. 

Dalam sudut lain, wacana kerapkali menyiratkan wacana interaktif, sedangkan teks menyiratkan monolog non-interaktif. Pembedaan lain dilakukan oleh Halliday dan Hassan (1976), yakni bahwa wacana cenderung panjang, sedangkan teks dapat singkat sekali, seperti pada tanda “Pintu Darurat”. Lain lagi halnya dengan Widdowson (1979), yang membedakan keutuhan (kohesi) teks, yang terlihat pada permukaan (lahir), dari pertalian (koherensi) wacana, yang berlaku antara tindak-tindak wicara yang mendasarinya (batin). Sebaliknya Van Dijk (1977) menggunakan teks untuk untuk merujuk pada konstruk teoritis yang abstrak, yang diwujudkan dalam wacana, sedangkan bagi Halliday (1978), justru teks yang mengacu pada perwujudan lahir (Stubbs 1983 : 9-10; 1984 205-206). Dalam perkembangan analisis wacana dalam artiannya yang luas berkait dengan fenomena-fenomena di luar bahasa itu sendiri dan dapat dibedakan dari linguistik teks yang mengkaji “asas-asas kebahasaan yang mengatur struktur teks,” walaupun keduanya, mislanya, tertarik pada fenomen kohesi (crystal 1985 : 96). 
Walaupun analisis wacana sebagai disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit, dapat dikatakan baru benar-benar berkembang pada awal tahun 1970-an, banyak konsep teoretisnya bersumber pada tradisi teori-teori klasik yang berkembang lebih dari 2.000 tahun yang lampau serta teori-teori strukturalis dalam linguistik, poetik, antropologi dan psikologi dari akhir tahun 1960-an yang pada gilirannya diilhami oleh pikiran-pikiran para formalis Rusia dan strukturalis ceko.
 Istilah analisis wacana pertama kali diperkenalkan dalam linguistik oleh Zellig S. Harris 1952 yang mengawali pencarian terhadap kaidah kaidah bahasa yang akan menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks di hubungkan oleh semacam tata bahasa yang diperluas. Namun pada waktu itu Harris setengahnya melawan arus.

Linguistik yang berkibar saat itu di Amerika adalah  buah pikiran Bloomfield dan pengikut-pengikutnya, yang secara tegar dan tegas memisahkan sintaksis dari semantik. Chomsky, murid Harris, meneruskan pemisahan sintaksis dari semnatik ini dan karena mengandalkan intuitif serta menekankan kajian terhadap kemampuan dan bukannya penampilan tidak mendasarkan analisisnya pada data bahasa sebagaimana sesungguhnya digunakan orang.  Chomsky melenyapkan perhatian orang terhadap wacana dengan menggunkan konsep transformasi secara berbeda. Tata bahasa transformasinya bertujuan memerikan struktur kalimat bukannya dalam satu wacana, melainkan dalam seantero bahasa. 

Pada awalnya linguistik strukturalis Amerika dipelopori oleh oarng-orang seperti Franz Boas dan Edward Sapir yang sekaligus linguis dan antropolog. Mereka tidak hanya meneliti bahasa namun juga budaya dan masyarakatnya. Namun Bloom Field, karena pengaruh positivisme dalam filsafat ilmu dan behaviorisme dalam psikologi pada masa itu, yang merupakan jawaban ilmu-ilmu non-eksakta terhadap ketegaran rigor  yang dicapai dalam matematika dan ilmu-ilmu alam, menjauhkan linguistik dari pengkajian terhadap makna, yang menurutnya merupakan ranah kajian ilmu-ilmu lain. Linguistik menurutnya, sepatutnya mengkaji bentuk dan substansi bahasa itu sendiri. 

Wacana di Amerika memang memang berkembang juga hanya dalam kerangka aliran yang tidak melampaui menonjol, seperti tagmemik. Aliran ini ditokohi oleh Kenneth Pike, Joseph Grimes, dan Ronald E. Longacre, meneruskan rintisan Boas. Ancangan analisis wacana kaum tagmemis ini cenderung jauh lebih luas dari yang dikonsepkan oleh Harris.

Uraian mengenai sentakan-sentakan awal yang menandai pelahiran analisis wacana ini dimulai dengan tradisi amerika, karena istilahnya muncul di situ. Pada tahun 1935v di inggris john rupert firth menganjurkan agar para linguis menelaah percakapan. Menurutnya, disinilah akan kita temukan kunci bagi poemahaman yang lebih baik tentang apa yang sebenarnya bahasa itu. Linguistik aliran Firt juga dikenal karena fungsionalismenya. Secara umum dapat pula dikatakan bahwa linguistik di eropa, terutama Inggris, dan Jerman pada tahun1960-an lebih dekat dengan disiplin-disiplin lain yang sama-sama menggunakan ancangan strukturalis.

Di Eropa, khususnya Prancis, pada pertengahan tahun 1960-an timbul karya-karya yang menganalisis wacana dari ancangan semiotik strukturalis oleh tokoh-tokoh, seperti Bremond, Todorov, Barthes, dan Metz, Greimas, Eco, dan lain-lain. Ancangan semiotik mereka diilhami oleh linguistik. Dalam dasawarsa 1970-an berkembang lebih lanjut minta orang terhadap pengguna bahasa sesunguhya dalam sosiolinguistik. Pada awal tahun 1970-an para linguis belajar kenal dengan karya-karya para ahli filsafat seperti Austin, Grice, dan Searle, mengenai tindak wicara. Dimata mereka, ujaran verbal bukan saja merupakan kalimat melainkan bentuk tertentu tindakan sosial. Dengan kata lain, apabila kalimat digunakan dalam suatu konteks sosial tertentu, maka ia tidak saja memiliki maknanya sendiri melainkan juga suatu makna atau fungsi yang disebut fungsi ilokusi, berdasarkan niat, kepercayaan, atau penilaian penutur, ataupun berdasarkan hubungan antara penutur dengan pendengar. Perkembangan ini memberikan dimensi pragmatik pada studi terhadap wacana.

Dalam antropologi juga muncul etnografi pertuturan atau etnografi komunikasi, yang menganalisis peristiwa-peristiwa komunikasi dalam berbagai budaya, sebagaimana yang dipelopori oleh John Gumperz, Dely Hymes dll. Dalam sosiologi mikro juga berkembang pengkajian terhadap bahasa ilmiah dalam cabnag yang dikenal sebagai analisis percakapan dengan tokoh-tokohnya Harvey Sacks, Erving Goffman, Emanuel Schegloff dan lain-lain. Ini merupakan bidang yang amat berkembang saat ini, juga dalam antropologi. 

Akhirnya harus disebutkan juga perkembangan pengkajian terhadap wacana dalam psikologi dan intelegensi artifisial, yang diilhami oleh karya Bartlett mengenai ingatan untuk cerita. Walaupun kontak psikologi dan psikolinguistik dengan lingusitik adalah terutama dengan aliran transformasi-generatif Chomsky, sehinggga menghasilkan kajian-kajioan mengenai realitas psikologis kaidah-kaidah sintaksis, misalnya pada awal ahun 1970-an timbul minat yang makin besar terhadap ingatan semnatik dan representasi pengetahuan (kognisi). Penelitian kognitif ini segera berkembang menjadi pengkajian terhadap model-model mengenai ingatan untuk teks dan proses-proses penyusunan dan pemahaman bahasa, mengawali pengkajian terhadap representasi pengetahuan dalam ingatan.
Tahun 1980-an merupakan masa pemantapan disiplin analisis wacana. Pokok perhatian disiplin ini juga makin merebak ke hal-hal yang banyak diperhatikan orang psada masa sekarang, seperti perbedaan gender, wacana politik, dan usaha emansipasi manusia, masyarakat, dan lain-lain.

Previous Post
Next Post

0 komentar: