Wednesday, 13 February 2019

The Power of Morning



Bangun di pagi hari merupakan rutinitas kita setiap hari. Setiap orang memilki kebiasaan bangun di jam-jam tertentu. Sebagian besar orang muslim bangun setiap hari sebelum adzan shubuh berkumandang atau setelah itu. Intinya mereka bangun pagi karena harus menjalankan kewajibannya. Beda halnya dengan yang non muslim mereka tidak ada kewajiban untuk bangun pagi-pagi banget seperti orang muslim.
Dari perbedaan itu dapat dipastikan peluang kita untuk menyambut pagi lebih besar. Namun salah satu hal yang biasanya kita rasakan adalah perasaan-perasaan yang kurang enak mungkin rasa malas atau merasa terbebankan dengan rutinitas seperti itu. Hal-hal itulah yang membuat pagi kita menjadi kurang berenergi atau kurang semangat dalam menjalankan aktivitas lainnya. Itu semua bisa kita lihat permasalahannya atau penyebab dari orang itu bisa seperti itu. Bisa jadi sebelum tidur dia tidak membaca doa atau karena begadang semalaman. Terlepas dari itu semua semangat dan energi positiflah yang kita butuhkan.

Pagi yang sudah disampaikan di atas adalah kunci dari aktivitas keseharian kita. Pagi adalah langkah awal yang harus kita perbaiki karena langkah awal atau permulaan yang baik akan membawa kebaikan-kebaikan pada tahap selanjutnya. Dengan pola hidup yang normal atau teratur maka permasalahan itu bisa diminimalisasikan. Maka dari itu terlepas dari permasalahan apa yang kita punya sebelumnya sedapat mungkin kita meniatkan pagi kita mengarah pada hal-hal yang positif.
Ketika kita bangun untuk sholat shubuh bengunlah dengan semangat dengan alasan bahwa dengan sholat kita menjadi lebih tenang dan hindari fikiran-fikiran yang membawa pada suatu keadaan yang akan membuat kita menunda atau pun terlena untuk tidur kembali. Setelah selesai sholat shubuh do’akan agar hari ini kita menjalani  hidup dengan beban yang lebih ringan dan tenang dalam mengahdapi tantangan ataupun ujian yang bisa datang kapanpun dia mau.
Sebagai bahan pembuktian sebenarnya tidak ada penelitian atau apa pun. Namun secara subyektif dan bersifat empiris sehingga terlihat seperti hal yang mustahil terjadi maka dari itu dengan tanggapan yang terbuka kita tentu dapat mengimajinasikan untuk kembali merefleksikan bagaimana keseharian kita di pagi hari. Apabila itu tidak benar-benar terjadi maka ada faktor lain di balik itu yang membuat hari-hari kita tidak seperti yang kita harapkan. Tentu hal ini perlu di coba atau dibandingkan saja dengan pengalaman empiris kita. Proses inilah yang saya alami tentu tidak samua sama dalam hal kebiasaan tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

Previous Post
Next Post

0 komentar: