Puji syukur kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena atas rahmat dan karunia-Nya
makalah ini terselesai dengan baik yang membahas tentang “Parameter
Pragmatik” ini dapat kami selesaikan.
Penulisan materi didalam makalah
ini berdasarkan materi dari situs
internet dan buku yang direkomendasikan
oleh Dosen Pengampu mata kuliah pragmatik. Pemahaman makalah ini pula
diharapkan agar mahasiswa lebih bersikap kritis. Karena setiap buku dan situs
internet mempunyai pendapat atau pengertian yang berbeda-beda. Dengan adanya
makalah ini, diharapkan kepada mahasiswa agar mempunyai wawasan yang luas serta
dapat mengembangkan pikirannya agar lebih maju dan lebih bersikap logis.
Kami mengakui banyak kekurangan
dalam makalah ini oleh karena itu kami mengharapkan saran-saran kontruksi dari
Dosen dan para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Denpasar, 23 Maret
2018
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbahasa
merupakan salah satu perilaku dari kemampuan manusia, sama dengan kemampuan dan
prilaku untuk berpikir, bercakap-cakap, bersuara ataupun bersiul. Berbahasa
juga merupakan aktivitas sosial, yang baru terwujud bila melibatkan manusia.
Menurut Wijana (1996: 45) “Di dalam berbicara, penutur dan lawan tutur
sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya,
penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan
ucapan lawan tuturnya.”
Setiap peserta tindak
tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah
kebahasaan di dalam interaksi lingual. Dalam berbicara tidak selamanyaberkaitan
dengan masalah yang bersifat tekstual, namun seringkali berhubungan dengan
persoalan yang interpesonal.
Pertuturan yang
wajar terbentuk karena penutur dan lawan tutur melakukan kerjasama. Selain
prinsip kerjasama, dalam melakukan tindak tutur kita juga perlu memperhatikan
prinsip kesopanan. Prinsip ini berkaitan dengan diri sendiri dan orang lain.
Penutur harus menyusun tuturannya dengan sedemikian rupa agar lawan tuturnya
sebagai individu merasa diperlakukan secara santun. . Hal-hal yang mengatur
strategi pemilihan bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesopanan berbeda-beda
ini disebut parameter pragmatik. Berdasarkan hal-hal tersebut, makalah ini akan
membahas persoalan yang berkaitan dengan parameter pragmatik
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Apa itu parameter pragmatik?
1.2.2
Sebutkan jenis-jenis strategi
pragmatik dan jelaskan!
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
- Mengetahui
apa maksud parameter pragmatik
- Mengetahui
apa saja jenis-jenis strategi yang terdapat pada parameter pragmatik
BAB II
PEMBAHASAN
1.2.1 Parameter
Pragmatik
Semakin panjang bentuk tuturan, semakin besar pula keinginan
penutur untuk berlaku sopan kepada lawan tuturnya. Penutur sebenarnya tidak
semena-mena mengutarakan bentuk tuturannya, melainkan melalui berbagai
pertimbangan. Hal-hal yang mengatur strategi pemilihan bentuk tuturan yang
memiliki tingkat kesopanan berbeda-beda ini disebut parameter pragmatik.
Parameter pragmatik harus dicermati agar lawan tutur tidak merasa kehilangan
muka, yang dimaksud muka dalam hal ini adalah citra diri (self image). Muka yang
ditawarkan itu berbeda-beda bergantung pada situasi pembicaraan.
Pada suatu saat muka yang ditawarkan sebagai teman dekat, pada saat
lain sebagai guru. Pada suatu saat muka itu menawarkan kegembiraan, dan pada
saat lain menawarkan kesedihan, dan lainnya. Jadi, peserta pertuturan harus
menafsirkan dan memahami kata-kata yang diutarakan oleh lawan tuturnya sesuai
dengan muka yang ditawarkan. Dalam kata lain, lawan tutur harus mampu
menafsirkan wajah yang ditawarkan kepadanyaMuka yang ditawarkan penutur memiliki
dua kemungkinan, yakni muka positif dan muka negatif. Muka positif terwujud
bila ide-ide, atribut, milik, prestasi, tujuan, dan lainnya dihargai oleh lawan
tuturnya. Sedangkan muka negatif adalah keinginan seseorang untuk tidak
diserang, diejek, atau dihina oleh lawan tuturnya.
1.2.2
Jenis-Jenis
Strategi Pragmatik
Brown dan Levinson mengidentifikasi empat strategi untuk
memperlakukan lawan tutur secara wajar. Strategi 1 kurang sopan, strategi 2
agak sopan, strategi 3 sopan, dan strategi 4 paling sopan. Keempat strategi itu
harus dikaitkan dengan tiga parameter pragmatik berikut:
Tingkat jarak sosial (distance
rating) antara penutur dan lawan tutur berdasarkan parameter perbedaan
umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural.
Tingkat status sosial (power
rating) berdasarkan kedudukan yang asimetrik antara penutur dan lawan tutur
di dalam konteks pertuturan.
Tingkat
peringkat tindak tutur (rank rating) berdasarkan
kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lain.
Strategi
1 kurang sopan jika digunakan kepada teman.
Contoh : “ambil pulpen
itu”
Strategi
2 agak sopan jika digunakan kepada teman yang tidak (belum) begitu
akrab.
Contoh : “hai eka,
tolong ambilkan pulpen itu”
Strategi
3 sopan jika digunakan pada orang yang belum dikenal.
Contoh : “maaf
merepotkan, bolehkah saya meminta tolong untuk mengambilkan pulpen itu?”
Strategi
4 paling sopan jika digunakan kepada orang yang berstatus sosial
lebih tinggi.
Contoh : “mohon maaf
pak, ini sangat memalukan tapi saya tidak membawa pulpen”
Kejanggalan
akan terjadi bila penutur menerapkan strategi-strategi di atas secara tidak
tepat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa harus memilih strategi
tersebut dengan benar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Strategi pragmatik pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara
dua partisipan yang dapat disebut sebagai ‘diri sendiri’ dan ‘orang lain’. Strategi
pragmatik memiliki beberapa strategi, yakni strategi 1 kurang sopan strategi 2 agak sopan, strategi 3 sopan,dan strategi 4 paling sopan. Dalam
kaitannya dengannya strategi-strategi tersebut adalah
untuk memperlakukan lawan tutur secara wajar.
3.2 Saran
Pemahaman tentang pragmatik
oleh penutur bahasa lebih-lebih pada calon pakar bahasa sangat dibutuhkan untuk
melengkapi analisis bahasa seperti fonologi, morfologis, dan sintaksis. Seyogianya
pemakai bahasa mengetahui unsur-unsur di luar bahasa yang turut mempengaruhi
makna bahasa. Jalan satu-satu harus memahami hakikat dan kajian pragmatik.
Sebagai mahasiswa jurusan Sastra
Indonesia sebaiknya mendalami pemahaman pragmatik melalui bahasa tulis, oleh
karena itu setiap ingin menyampaikan pendapat secara lisan dan tertulis sepatutnya
menghindari penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan makna ganda dan yang paling
penting adalah mendalami pragmatik.

0 komentar: