Friday, 20 April 2018

Parameter Pragmatik




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah ini terselesai dengan baik  yang membahas tentang “Parameter Pragmatik” ini dapat kami selesaikan.
Penulisan materi didalam makalah ini berdasarkan  materi dari situs internet dan buku  yang direkomendasikan oleh Dosen Pengampu mata kuliah pragmatik. Pemahaman makalah ini pula diharapkan agar mahasiswa lebih bersikap kritis. Karena setiap buku dan situs internet mempunyai pendapat atau pengertian yang berbeda-beda. Dengan adanya makalah ini, diharapkan kepada mahasiswa agar mempunyai wawasan yang luas serta dapat mengembangkan pikirannya agar lebih maju dan lebih bersikap logis.
Kami mengakui banyak kekurangan dalam makalah ini oleh karena itu kami mengharapkan saran-saran kontruksi dari Dosen dan para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



Denpasar, 23 Maret 2018


                Penulis
















BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Berbahasa merupakan salah satu perilaku dari kemampuan manusia, sama dengan kemampuan dan prilaku untuk berpikir, bercakap-cakap, bersuara ataupun bersiul. Berbahasa juga merupakan aktivitas sosial, yang baru terwujud bila melibatkan manusia. Menurut Wijana (1996: 45) “Di dalam berbicara, penutur dan lawan tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.”
            Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual. Dalam berbicara tidak selamanyaberkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual, namun seringkali berhubungan dengan persoalan yang interpesonal.
            Pertuturan yang wajar terbentuk karena penutur dan lawan tutur melakukan kerjasama. Selain prinsip kerjasama, dalam melakukan tindak tutur kita juga perlu memperhatikan prinsip kesopanan. Prinsip ini berkaitan dengan diri sendiri dan orang lain. Penutur harus menyusun tuturannya dengan sedemikian rupa agar lawan tuturnya sebagai individu merasa diperlakukan secara santun. . Hal-hal yang mengatur strategi pemilihan bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesopanan berbeda-beda ini disebut parameter pragmatik. Berdasarkan hal-hal tersebut, makalah ini akan membahas persoalan yang berkaitan dengan parameter pragmatik

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa itu parameter pragmatik?
1.2.2        Sebutkan jenis-jenis strategi pragmatik dan jelaskan!

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
  1. Mengetahui apa maksud parameter pragmatik
  2. Mengetahui apa saja jenis-jenis strategi yang terdapat pada parameter pragmatik





BAB II
PEMBAHASAN

1.2.1  Parameter Pragmatik
Semakin panjang bentuk tuturan, semakin besar pula keinginan penutur untuk berlaku sopan kepada lawan tuturnya. Penutur sebenarnya tidak semena-mena mengutarakan bentuk tuturannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan. Hal-hal yang mengatur strategi pemilihan bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesopanan berbeda-beda ini disebut parameter pragmatik. Parameter pragmatik harus dicermati agar lawan tutur tidak merasa kehilangan muka, yang dimaksud muka dalam hal ini adalah citra diri (self image). Muka yang  ditawarkan itu berbeda-beda bergantung pada situasi pembicaraan.
Pada suatu saat muka yang ditawarkan sebagai teman dekat, pada saat lain sebagai guru. Pada suatu saat muka itu menawarkan kegembiraan, dan pada saat lain menawarkan kesedihan, dan lainnya. Jadi, peserta pertuturan harus menafsirkan dan memahami kata-kata yang diutarakan oleh lawan tuturnya sesuai dengan muka yang ditawarkan. Dalam kata lain, lawan tutur harus mampu menafsirkan wajah yang ditawarkan kepadanyaMuka yang ditawarkan penutur memiliki dua kemungkinan, yakni muka positif dan muka negatif. Muka positif terwujud bila ide-ide, atribut, milik, prestasi, tujuan, dan lainnya dihargai oleh lawan tuturnya. Sedangkan muka negatif adalah keinginan seseorang untuk tidak diserang, diejek, atau dihina oleh lawan tuturnya.

1.2.2  Jenis-Jenis Strategi Pragmatik
Brown dan Levinson mengidentifikasi empat strategi untuk memperlakukan lawan tutur secara wajar. Strategi 1 kurang sopan, strategi 2 agak sopan, strategi 3 sopan, dan strategi 4 paling sopan. Keempat strategi itu harus dikaitkan dengan tiga parameter pragmatik berikut:
Tingkat jarak sosial (distance rating) antara penutur dan lawan tutur berdasarkan parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural.
Tingkat status sosial (power rating) berdasarkan kedudukan yang asimetrik antara penutur dan lawan tutur di dalam konteks pertuturan.
Tingkat peringkat tindak tutur (rank rating) berdasarkan kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lain.
Strategi 1         kurang sopan jika digunakan kepada teman.
                        Contoh : “ambil pulpen itu”
Strategi 2         agak sopan jika digunakan kepada teman yang tidak (belum) begitu akrab.
                        Contoh : “hai eka, tolong ambilkan pulpen itu”
Strategi 3         sopan jika digunakan pada orang yang belum dikenal.
                        Contoh : “maaf merepotkan, bolehkah saya meminta tolong untuk mengambilkan pulpen itu?”

Strategi 4         paling sopan jika digunakan kepada orang yang berstatus sosial lebih tinggi.
                        Contoh : “mohon maaf pak, ini sangat memalukan tapi saya tidak membawa pulpen”
Kejanggalan akan terjadi bila penutur menerapkan strategi-strategi di atas secara tidak tepat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa harus memilih strategi tersebut dengan benar.





















BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Strategi pragmatik pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara dua partisipan yang dapat disebut sebagai ‘diri sendiri’ dan ‘orang lain’. Strategi pragmatik memiliki beberapa strategi, yakni strategi 1 kurang sopan strategi 2 agak sopan, strategi 3 sopan,dan strategi 4 paling sopan. Dalam kaitannya dengannya strategi-strategi tersebut adalah untuk memperlakukan lawan tutur secara wajar.
3.2  Saran
Pemahaman tentang pragmatik oleh penutur bahasa lebih-lebih pada calon pakar bahasa sangat dibutuhkan untuk melengkapi analisis bahasa seperti fonologi, morfologis, dan sintaksis. Seyogianya pemakai bahasa mengetahui unsur-unsur di luar bahasa yang turut mempengaruhi makna bahasa. Jalan satu-satu harus memahami hakikat dan kajian pragmatik.
Sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia sebaiknya mendalami pemahaman pragmatik melalui bahasa tulis, oleh karena itu setiap ingin menyampaikan pendapat secara lisan dan tertulis sepatutnya menghindari penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan makna ganda dan yang paling penting adalah mendalami pragmatik.


Previous Post
Next Post

0 komentar: