Aku lebih nyaman sekolah di desa, aku tidak mau sekolah di kota apalagi aku harus jauh dengan keluarga dan teman-temanku. Ayah ku hanya bisa diam, bersabar, dan terus membujukku dengan ribuan rayuan nikmatnya sekolah di kota walau demikian aku tetap saja tegap dengan pendirianku aku tidak ingin pisah dengan teman-temanku mersi, rumli, dan rahmat. aku masih ingin bermain dan mencari rumput di sawah bersama mereka.
Sebenarnya didalam benak terdalam hatiku ada sedikit
terbersit keinginan namun tidak bisa mengalahkan kecintaanku pada sapi-sapiku.
Mereka selalu bergembira menyambutku dengan suara merdunya ketika aku
membawakan sekarung rumput hijau yang aku pikul di atas kepalaku. Kita seperti
simbiosis mutualisme yang salingg menguntungkan mereka gembira aku pun ikut
gembira. Ternyata benar buah mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jiwa
peternak yang aku miliki tidak lepas dari ayahku sendiri yang dulunya adalah
seorang kusir dokar dengan kuda jantan yang membuatnya terlihat berwibawa pada
zamannya. Tapi sekarang udah beda zamannya. Sekarang zamannya berkompetisi
dengan kemampuan otak bukan materi lagi seperti dahulu.
****
Pengumuman kelulusan membuatku semakin kacau, ayahku
pasti menginginkaku untuk sekolah di kota beribu alasan pun aku keluarkan yang
penting aku tidak terpisah dngan sahabatku. Mereka adalah orang yang membuatku
menjadi petualang sejati berangkat sekolah bareng jalan kaki lebih dari satu
kilo pulangnya lewat sawah biar cepat katanya.
Suka duka kami selalu bersama. Itulh yang membuat kami tidk mau terpisah walau
dengan keadaan apa pun.
Sepulang sekolah tidak biasanya aku merenungi
keinginan ayahku yang punya cita-cita mulia untkku Tapi apakah aku yang bodoh
menolak keinginan ayah untuk sekolah di kota. Ah aku gak yakin bisa diterima,
apalagi pilihan ayah paling favorit di daerahku.
Suatu hari ayahku mengajak jalan-jalan ke kota,
katanya mau ditemani beli tas baru, soalnya aku sudah lulus smp jadi harus
punya tas baru biar semangat juga baru katanya. Aku tentu bersemangat bisa
jalan-jalan naik motor punya paman ku. Ayahku masih belum mampu untuk itu namun
keinginan ayahku sangat kuat agar aku bisa bersekolah di kota sehingga
mengajakku berkeliling kota.
Aku menikmati suasana kota yang penuh dengan
gedung-gedung tinggi dan melihat gambar bergerak di tepi-tepi jalan.
“pak
itu tipi kok besar ya ?” kataku dengan polos
“makanya
nanti kalo kamu sekolah di kota, kamu bisa nonton tipi setiap hari” ayahku
tersenyum.
“beneran
yah, di rumah siapa?” aku tidak percaya sama ayah soalnya di kota tidak ada
orang yang aku kEnal sama sekali.
Setelah
jalan-jalan, ayah sengaja bersilaturrahmi di rumah temannya di kota. Ayahku
terlihat bahagia karena ia memiliki ide agar aku melanjutkan sma di kota.
“Assalamu’alaikum....”
ayahku memberi salam sambil tersenyum pada seorang bapak-bapak yang kepalanya
botak seperti professor.
“Wa’alaikumussalam
wr wb.” Dengan senyuman manisnya.
“Maaf
bos, nggak ngasih tahu dulu kalo kami mau kesini.” Ayahku seperti merasa bersalah.
“Owh..
nggak apa-apa, biasa aja pak lim.”
Nama ayahku adalah salim jadi di panggil pak lim
oleh bapak yang botak itu bukan karena ayahku
orang cina. Bapak botak itu
adalah atasannya di kantor yang selalu memberi motivasi kepada bapakku
agar tetap semangat walaupun ayahku hanya sebagai seorang security yang jaga
pada malam hari. Dia lah yang menyuruh ayahku untuk sekolah di kota dan nanti
aku akan di titipkan ke bapak botak itu.
“nah,
nanti kalo kamu sekolah di kota kamu bisa nonton tv di sini, sepuasnya!”
“Beneran
yah?”. Aku berbisik ke ayah malu sama
bapak botak.
“Iya
nanti kamu tinggal di rumah pak Enal tapi jangan nonton tv terus ya!”
Ternyata bapak botak itu namanya pak Enal, orangnya
berwibawa dan menakutkan sekilas dari pandanganku saat itu. Aku jadi takut dan
cepat-cepat ingin pulang karena sudah waktunya aku harus ke sawah sama
teman-temanku. sapiku juga sepertinya rindu dengan kehadiranku membawakannya
sekarung rumput. Karena mencari rumput adalah hoby ku setelah jalan-jalan naik
motor di boncengi ayah.
****
Pemikiranku masih sederhana, tidak sepeerti orang
kebanyakan yang penting aku bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-temanku.
Kami pernah berjanji tidak akan terpisah dan akan terus bersama sepanjang hidup.
sebagai saksi perjanjian kami adalah sebuah semanngka besar yang kami curi di
sawah orang, entah siapa yang punya yang penting kami senang.
Namun perjanjian itu aku khianati ketika aku harus
meninggalkan desa, ayahku memaksa keras. Akhirnya aku pun mengikuti keinginan
ayah. Aku menangis sejadi-jadinya, aku di tinggalkanya di rumah pak Enal yang
botak itu. Aku mau tidak mau arus mengikuti keinginan pak Enal aku takut dengan
wajahnya yang terlihat berwibawa namun ganas.
“Pokoknya
kamu harus inggal di sini da sekolah disini, ayah tidak mau kamu jadi seperti
ayah” Ayahku membentak
“Udah
tinggalkan aja pak lim nanti aku yang urus” Pak Enal menyarankan.
Aku
ditinggakannya. Aku berusaha mengejar, namun apa daya roda motorya lebih
kencang dari kaki-kakiku.
Aku
pun diajak pulang kerumahnya pak Enal.
“Biarlah
aku di sini, aku tunggu ayah menjemputku. Aku nggak mau sekolah disini. Aku mau
cari rumput untuk sapi-sapiku. Aku mau pulang... aku mau pulang.” Aku terus
saja mengerutu meratapi kehamppanku tanpa mereka
Aku merasa di tipu oleh ayah katanya mau jalan-jalan
lagi namun teganya meningglkan ku disana. Dua malam aku tidak tidur memikirkan
jalan pulang. Hngga suatu waktu Pak Enal mulai membuka pembicaraan ingin mengEnalku
lebih dalam. Suara lembutnya menyapaku tak seperti biasanya.
“Kamu
jadi ingin sekolah?”
“Iya,
tapi bukan disini” Kataku sedikit keras
“Sudahlah
nak, kamu jangan begitu. Terima saja dimana pun kamu akan bersekolah.”
“Nggak!”
(meninggalkan pak Enal).
****
Tujuh hari sudah aku berada di rumahnya pak Enal,
rasanya aku sudah tidak tahan berada di sana. Aku pun berencana untuk kabur
dari rumah itu, bagaimanapun caranya hari itu aku harus sudah keluar dari rumah
hantu itu.
Jantungku berdegup kencang melewati lorong kecil
yang membawaku ke sebuah tempat yang jauh dari rumah itu. Lorong kecil itu
ternyata adalah saluran air yang menuju langsung ke sawah. Teringat aku tentang
sapi-sapiku dan teman-temanku.
“jam segini udah waktunya aku cari rumput kalo di
rumah” berbisik pada diri sendiri
Pak
Enal baru menyadari bahwa aku sudah tidak ada dirumahnya. Dicarinya aku namun
tak ia temukan. Ia menghubungi ayah, seketika ayahku pun datang kerumah itu
mencariku bersama warga yang lain. Namun tak ada seorang pun yang menemukanku.
Ayahku baru menyadari bahawa tidak
semudah itu untuk menyekolahkanku di kota namun ia tidak mau masa depanku
terhambat oleh keseharianku yang tidak memberikanku pelajaran dalam ilmu
pengetahuan.
Ditengah sawah berjalan sambil
merenung aku melihat seorang ayah dan anaknya bersama-sama untuk mencari rumput
tanpa pikir panjang aku bertanya dan ngobrol dengan bapak itu.
“la
cari rumput pak?”
“iya
dek”
Ini
anaknya ya pak? Sambil nunjuk ke arah anak kecil yang umurnya sekitar 12 tahun
“Iya
dek, ini anak bapak. Dia tidak sekolah seperti adek, kami gak ada biaya makanya
saya ajak kesawah agar tidak mengigninkan sekolah seperti teman-temannya”
“Owh
begitu” sedikit kaget
“bapak
sedih dek, nanti kalau ia tidak sekolah dia mau jadi apa, saya tidak ingin dia
jadi seperti aku hanya seorang peternak yang kerjanya cuma cari rumput saja”
“Pak
ayo pulang” suara cempreng anak itu memutuskan pembicaraan kami
“Permisi
dek ya, bapak mau pulang dulu”
Dari kejadian itu aku merenung kembali kenpa ayah
menginginkan aku bersekolah di kota, aku sudah tahu maksud ayah sekarang bahwa
dia tidak mau aku sepertinya yang hanya sebagai security saja, aku harus lebih
darinya.
Aku memberanikan diri untuk datang kembali kerumah
itu dan terkejuttnya aku melihat ayah sudah ada di sana. Langsung aku
memeluknya dan meminta maaf padanya atas kerasnya kemauanku. Aku pun minta pada
ayah untuk segera mendaftarkan aku ke sekolah itu sontak ayah ku mengeluarkan
air mata bahagia melihat aku mau bersekolah di kota. Pak Enal dan keluarga
melihat kami dengan penuh ekspresi ada yang tersenyum, sedih, dan bahkan
tertawa mengejek karena melihat kami mengeluarkan air mata.
****
Ujian tes di sekolah favorit itu sudah biasa karena
mereka menginginkan siswa yang terbaik saja yang boleh sekolah disana. Aku pun
tegang menghadapi ujian tes namun aku percaya akan kemampuanku dan terus
berdo’a agar bisa lolos ujian itu.
Hari pengumuman hsil tes ujian sudah keluar ayahku
memeriksa nilaiku di papan pengumuman sekolah itu dan terkejutnya ayah melihat
namaku tertera di sana walaupun namaku paling bawah urutannya dari teman-teman
yang lain tapi yang penting bagi ayah adalah aku bisa sekolah disana.
Sepulangnya dari sana ia langsung memelukku erat.
“Kamu diterima nak”
“Alhamdulillah “
Kami
sekeluarga kaget tidak ada yang percaya bahwa aku diterima disana kami hanya
menerimanya dengan penuh ketidak percayaan.

0 komentar: