Saturday, 1 April 2017

Jangan seperti Ayah



Aku lebih nyaman sekolah di desa, aku tidak mau sekolah di kota apalagi aku harus jauh dengan keluarga dan teman-temanku. Ayah ku hanya bisa diam, bersabar, dan terus membujukku dengan ribuan rayuan nikmatnya sekolah di kota walau demikian aku tetap saja tegap dengan pendirianku aku tidak ingin pisah dengan teman-temanku mersi, rumli, dan rahmat. aku masih ingin bermain dan mencari rumput di sawah bersama mereka.
Sebenarnya didalam benak terdalam hatiku ada sedikit terbersit keinginan namun tidak bisa mengalahkan kecintaanku pada sapi-sapiku. Mereka selalu bergembira menyambutku dengan suara merdunya ketika aku membawakan sekarung rumput hijau yang aku pikul di atas kepalaku. Kita seperti simbiosis mutualisme yang salingg menguntungkan mereka gembira aku pun ikut gembira. Ternyata benar buah mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jiwa peternak yang aku miliki tidak lepas dari ayahku sendiri yang dulunya adalah seorang kusir dokar dengan kuda jantan yang membuatnya terlihat berwibawa pada zamannya. Tapi sekarang udah beda zamannya. Sekarang zamannya berkompetisi dengan kemampuan otak bukan materi lagi seperti dahulu.



****
Pengumuman kelulusan membuatku semakin kacau, ayahku pasti menginginkaku untuk sekolah di kota beribu alasan pun aku keluarkan yang penting aku tidak terpisah dngan sahabatku. Mereka adalah orang yang membuatku menjadi petualang sejati berangkat sekolah bareng jalan kaki lebih dari satu kilo pulangnya lewat sawah  biar cepat katanya. Suka duka kami selalu bersama. Itulh yang membuat kami tidk mau terpisah walau dengan keadaan apa pun.
Sepulang sekolah tidak biasanya aku merenungi keinginan ayahku yang punya cita-cita mulia untkku Tapi apakah aku yang bodoh menolak keinginan ayah untuk sekolah di kota. Ah aku gak yakin bisa diterima, apalagi pilihan ayah paling favorit di daerahku.
Suatu hari ayahku mengajak jalan-jalan ke kota, katanya mau ditemani beli tas baru, soalnya aku sudah lulus smp jadi harus punya tas baru biar semangat juga baru katanya. Aku tentu bersemangat bisa jalan-jalan naik motor punya paman ku. Ayahku masih belum mampu untuk itu namun keinginan ayahku sangat kuat agar aku bisa bersekolah di kota sehingga mengajakku berkeliling kota.
Aku menikmati suasana kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan melihat gambar bergerak di tepi-tepi jalan.
“pak itu tipi kok besar ya ?” kataku dengan polos
“makanya nanti kalo kamu sekolah di kota, kamu bisa nonton tipi setiap hari” ayahku tersenyum.
“beneran yah, di rumah siapa?” aku tidak percaya sama ayah soalnya di kota tidak ada orang yang aku kEnal sama sekali.
Setelah jalan-jalan, ayah sengaja bersilaturrahmi di rumah temannya di kota. Ayahku terlihat bahagia karena ia memiliki ide agar aku melanjutkan sma di kota.
“Assalamu’alaikum....” ayahku memberi salam sambil tersenyum pada seorang bapak-bapak yang kepalanya botak seperti professor.
“Wa’alaikumussalam wr wb.” Dengan senyuman manisnya.
“Maaf bos, nggak ngasih tahu dulu kalo kami mau kesini.” Ayahku seperti merasa bersalah.
“Owh.. nggak apa-apa, biasa aja pak lim.”
Nama ayahku adalah salim jadi di panggil pak lim oleh bapak yang botak itu bukan karena ayahku  orang cina. Bapak botak itu  adalah atasannya di kantor yang selalu memberi motivasi kepada bapakku agar tetap semangat walaupun ayahku hanya sebagai seorang security yang jaga pada malam hari. Dia lah yang menyuruh ayahku untuk sekolah di kota dan nanti aku akan di titipkan ke bapak botak itu.
“nah, nanti kalo kamu sekolah di kota kamu bisa nonton tv di sini, sepuasnya!”
“Beneran yah?”. Aku berbisik  ke ayah malu sama bapak botak.
“Iya nanti kamu tinggal di rumah pak Enal tapi jangan nonton tv terus ya!”
Ternyata bapak botak itu namanya pak Enal, orangnya berwibawa dan menakutkan sekilas dari pandanganku saat itu. Aku jadi takut dan cepat-cepat ingin pulang karena sudah waktunya aku harus ke sawah sama teman-temanku. sapiku juga sepertinya rindu dengan kehadiranku membawakannya sekarung rumput. Karena mencari rumput adalah hoby ku setelah jalan-jalan naik motor di boncengi ayah.
****
Pemikiranku masih sederhana, tidak sepeerti orang kebanyakan yang penting aku bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-temanku. Kami pernah berjanji tidak akan terpisah dan akan terus bersama sepanjang hidup. sebagai saksi perjanjian kami adalah sebuah semanngka besar yang kami curi di sawah orang, entah siapa yang punya yang penting kami senang.
Namun perjanjian itu aku khianati ketika aku harus meninggalkan desa, ayahku memaksa keras. Akhirnya aku pun mengikuti keinginan ayah. Aku menangis sejadi-jadinya, aku di tinggalkanya di rumah pak Enal yang botak itu. Aku mau tidak mau arus mengikuti keinginan pak Enal aku takut dengan wajahnya yang terlihat berwibawa namun ganas.
“Pokoknya kamu harus inggal di sini da sekolah disini, ayah tidak mau kamu jadi seperti ayah” Ayahku membentak
“Udah tinggalkan aja pak lim nanti aku yang urus” Pak Enal menyarankan.
Aku ditinggakannya. Aku berusaha mengejar, namun apa daya roda motorya lebih kencang dari kaki-kakiku.
Aku pun diajak pulang kerumahnya pak Enal.
“Biarlah aku di sini, aku tunggu ayah menjemputku. Aku nggak mau sekolah disini. Aku mau cari rumput untuk sapi-sapiku. Aku mau pulang... aku mau pulang.” Aku terus saja mengerutu meratapi kehamppanku tanpa mereka

Aku merasa di tipu oleh ayah katanya mau jalan-jalan lagi namun teganya meningglkan ku disana. Dua malam aku tidak tidur memikirkan jalan pulang. Hngga suatu waktu Pak Enal mulai membuka pembicaraan ingin mengEnalku lebih dalam. Suara lembutnya menyapaku tak seperti biasanya.
“Kamu jadi ingin sekolah?”
“Iya, tapi bukan disini” Kataku sedikit keras
“Sudahlah nak, kamu jangan begitu. Terima saja dimana pun kamu akan bersekolah.”
“Nggak!” (meninggalkan pak Enal).
****
Tujuh hari sudah aku berada di rumahnya pak Enal, rasanya aku sudah tidak tahan berada di sana. Aku pun berencana untuk kabur dari rumah itu, bagaimanapun caranya hari itu aku harus sudah keluar dari rumah hantu itu.
Jantungku berdegup kencang melewati lorong kecil yang membawaku ke sebuah tempat yang jauh dari rumah itu. Lorong kecil itu ternyata adalah saluran air yang menuju langsung ke sawah. Teringat aku tentang sapi-sapiku dan teman-temanku.
“jam segini udah waktunya aku cari rumput kalo di rumah” berbisik pada diri sendiri
Pak Enal baru menyadari bahwa aku sudah tidak ada dirumahnya. Dicarinya aku namun tak ia temukan. Ia menghubungi ayah, seketika ayahku pun datang kerumah itu mencariku bersama warga yang lain. Namun tak ada seorang pun yang menemukanku.
            Ayahku baru menyadari bahawa tidak semudah itu untuk menyekolahkanku di kota namun ia tidak mau masa depanku terhambat oleh keseharianku yang tidak memberikanku pelajaran dalam ilmu pengetahuan.
            Ditengah sawah berjalan sambil merenung aku melihat seorang ayah dan anaknya bersama-sama untuk mencari rumput tanpa pikir panjang aku bertanya dan ngobrol dengan bapak itu.
“la cari rumput pak?”
“iya dek”
Ini anaknya ya pak? Sambil nunjuk ke arah anak kecil yang umurnya sekitar 12 tahun
“Iya dek, ini anak bapak. Dia tidak sekolah seperti adek, kami gak ada biaya makanya saya ajak kesawah agar tidak mengigninkan sekolah seperti teman-temannya”
“Owh begitu” sedikit kaget
“bapak sedih dek, nanti kalau ia tidak sekolah dia mau jadi apa, saya tidak ingin dia jadi seperti aku hanya seorang peternak yang kerjanya cuma cari rumput saja”
“Pak ayo pulang” suara cempreng anak itu memutuskan pembicaraan kami
“Permisi dek ya, bapak mau pulang dulu”
Dari kejadian itu aku merenung kembali kenpa ayah menginginkan aku bersekolah di kota, aku sudah tahu maksud ayah sekarang bahwa dia tidak mau aku sepertinya yang hanya sebagai security saja, aku harus lebih darinya.
Aku memberanikan diri untuk datang kembali kerumah itu dan terkejuttnya aku melihat ayah sudah ada di sana. Langsung aku memeluknya dan meminta maaf padanya atas kerasnya kemauanku. Aku pun minta pada ayah untuk segera mendaftarkan aku ke sekolah itu sontak ayah ku mengeluarkan air mata bahagia melihat aku mau bersekolah di kota. Pak Enal dan keluarga melihat kami dengan penuh ekspresi ada yang tersenyum, sedih, dan bahkan tertawa mengejek karena melihat kami mengeluarkan air mata.
****
Ujian tes di sekolah favorit itu sudah biasa karena mereka menginginkan siswa yang terbaik saja yang boleh sekolah disana. Aku pun tegang menghadapi ujian tes namun aku percaya akan kemampuanku dan terus berdo’a agar bisa lolos ujian itu.
Hari pengumuman hsil tes ujian sudah keluar ayahku memeriksa nilaiku di papan pengumuman sekolah itu dan terkejutnya ayah melihat namaku tertera di sana walaupun namaku paling bawah urutannya dari teman-teman yang lain tapi yang penting bagi ayah adalah aku bisa sekolah disana. Sepulangnya dari sana ia langsung memelukku erat.
“Kamu diterima nak”
“Alhamdulillah “
Kami sekeluarga kaget tidak ada yang percaya bahwa aku diterima disana kami hanya menerimanya dengan penuh ketidak percayaan.

           




Previous Post
Next Post

0 komentar: